Ketua DPC Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Surabaya Steven H Lesawengen mengatakan keterlambatan penanganan bongkar muat kapal juga terjadi di TPK Berlian, Tanjung Perak Surabaya.
“Keterlambatan penanganan bongkar muat kapal di TPK Berlian Pelabuhan Tanjung Perak karena alat belum siap,” ungkapnya.
Manajemen TPK Berlian, dan TPK Mirah belum memberikan komentar meski sudah dihubungi media. Manajemen TPK Nilam Tanjung Perak menampik adanya kerusakan alat bongkar muat di terminal tersebut.
Perwakilan Terminal Petikemas Semarang (TPKS), Komang menjelaskan bahwa keterlambatan kapal sandar dan bongkar muat masih dalam batas kewajaran dan dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama cuaca.
“Keterlambatan ini wajar terjadi karena faktor cuaca yang tidak menentu. Sebelumnya kami juga sudah melakukan sosialisasi kepada para pengguna jasa agar kondisi ini dapat diantisipasi,” ujar Komang.
Komang mengakui bahwa trafik kapal dan bongkar muat pada periode Desember hingga Januari meningkat tajam. Lonjakan ini seiring dengan tingginya aktivitas distribusi barang menjelang akhir tahun dan awal tahun.
“Traffic di bulan Desember sampai Januari memang naik. Ditambah lagi faktor cuaca yang kurang bersahabat, sehingga proses pelayanan menjadi terhambat,” katanya.
Untuk menekan dampak keterlambatan sekaligus menjaga kelancaran arus barang, TPKS menyiapkan langkah antisipatif dalam waktu dekat.
Komang menyebutkan bahwa pihaknya berencana menambah sejumlah peralatan pendukung bongkar muat. Yakni akan menambah 4 kontainer crane dan penambahan dermaga sepanjang 275 meter, serta beberapa penambahan area stacking.
Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas terminal dan mempersingkat waktu tunggu kapal. Dengan demikian, pasokan kontainer ke relasi dapat kembali lancar, biaya operasional pelayaran lebih terkendali, dan tekanan terhadap biaya logistik nasional dapat diminimalkan.
“Pelabuhan adalah kunci sistem logistik yang efisien ke banyak wilayah di Indonesia. Jika layanan pelabuhan buruk, daya saing akan menurun, biaya menjadi tinggi dan harga barang-barang ke konsumen menjadi semakin mahal,” tegas Sebastian.
(Dani Jumadil Akhir)