JAKARTA – Pemanfaatan hutan mulai bergerak ke arah baru. Tidak lagi semata bertumpu pada produksi kayu, pengelolaan hutan kini diarahkan pada pengembangan hasil hutan bukan kayu, jasa lingkungan, karbon, hingga keanekaragaman hayati melalui pendekatan berbasis bentang alam seperti yang diterapkan di kawasan Wehea–Kelay, Kalimantan Timur.
Ketua Umum APHI Soewarso mengatakan, pengembangan Multi Usaha Kehutanan (MUK) berbasis bentang alam menjadi jawaban atas tantangan menurunnya kinerja hutan alam dalam beberapa tahun terakhir.
“Melalui MUK, pemanfaatan hutan tidak hanya bertumpu pada kayu, tetapi juga dikembangkan melalui hasil hutan bukan kayu, jasa lingkungan, karbon, dan biodiversitas,” ujarnya, Kamis (12/2/2026).
Menurut Soewarso, APHI bersama para pemegang PBPH dan pemangku kepentingan lainnya terus mendorong model bisnis kehutanan yang terintegrasi dengan perhutanan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Dirinya menegaskan bahwa pendekatan lanskap juga membuka peluang penguatan akses pasar, pembiayaan hijau, serta pengembangan komoditas unggulan daerah yang dapat meningkatkan daya saing industri kehutanan nasional.
“Dengan kolaborasi yang kuat, sektor kehutanan dapat tumbuh secara berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat,” katanya.
Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) Herlina Hartanto menilai, komitmen enam konsesi di Wehea–Kelay merupakan langkah awal penting dalam membangun tata kelola lanskap yang seimbang antara kepentingan ekonomi dan konservasi.
“Pengembangan MUK skala bentang alam membuka ruang kolaborasi antar konsesi, antar desa, dan para pihak lainnya, sehingga upaya konservasi dan pembangunan ekonomi dapat berjalan secara harmonis,” ujarnya.