6 Fakta Mitigasi RI Hadapi Perang AS-Israel vs Iran, Pangan Aman dan Energi Dijaga

Feby Novalius, Jurnalis
Minggu 08 Maret 2026 05:03 WIB
6 Fakta Mitigasi RI Hadapi Perang AS-Israel vs Iran, Pangan Aman dan Energi Dijaga. (Foto: Okezone.com/Pertamina)
Share :

JAKARTA — Pemerintah memitigasi dampak konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran terhadap kondisi ekonomi serta pasokan kebutuhan pokok di dalam negeri. Pemerintah memastikan stok pangan, termasuk beras, serta bahan bakar dalam kondisi aman meski terdapat potensi kenaikan harga.

Pemerintah juga meminta masyarakat tidak panik atau khawatir karena cadangan pangan dan bahan bakar dipastikan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan nasional hingga 21 hari ke depan.

Selain menjaga pasokan, pemerintah mengambil langkah untuk memastikan kelangsungan usaha dengan memanggil para eksportir. Langkah ini dilakukan guna memitigasi risiko sekaligus memetakan peluang bisnis yang muncul akibat konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran.

Berikut sejumlah fakta terkait konflik tersebut dan langkah mitigasi yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk menjaga stabilitas pasokan dan ekonomi nasional, Minggu (8/3/2026):

1. Selat Hormuz Ditutup, Pemerintah Temui Eksportir

Menteri Perdagangan Budi Santoso segera melakukan pertemuan dengan kalangan pengusaha untuk membahas komoditas yang berpotensi mengalami hambatan rantai distribusi, terutama produk-produk dengan negara tujuan yang melalui atau beririsan dengan Selat Hormuz.

Di sisi lain, Budi juga menyoroti potensi gangguan terhadap pasokan bahan baku industri yang dibutuhkan para eksportir.

"Kami akan membahas problem apa. Saya ingin tahu secara teknis kira-kira masalahnya di mana. Yang jelas, produk-produk yang menggunakan bahan baku impor bisa saja nanti akan terganggu," kata Budi.

2. Pengalihan Ekspor

Pemerintah bakal mengalihkan ekspor ke negara-negara yang minim terdampak konflik. Budi memastikan tensi konflik yang belum mereda hingga saat ini berpotensi memengaruhi neraca perdagangan, termasuk kinerja ekspor nasional ke negara tujuan utama seperti kawasan Eropa maupun Timur Tengah.

"Kami cari diversifikasi pasar yang tidak terdampak perang ini. Negara-negara yang belum terdampak sebenarnya masih banyak secara langsung. Namun, kami juga harus jeli mempertimbangkan dan melakukan survei apakah daerah itu memang tidak banyak terganggu," kata Budi.

"Sudah dipetakan negara-negara seperti Asia Tenggara dan Afrika yang bisa kami masuki untuk mengisi kekosongan pasar," imbuhnya.

3. Nilai Perdagangan RI yang Bergantung pada Selat Hormuz

Neraca ekspor Indonesia ke negara-negara yang perdagangannya bergantung pada jalur pelayaran di Selat Hormuz tercatat cukup besar. Misalnya, nilai ekspor Indonesia ke Mesir mencapai 1,527 juta dolar AS dan ke Rusia sebesar 1,740 juta dolar AS.

4. Upaya Amankan Pasokan Energi

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bergerak cepat melakukan mitigasi dampak ketegangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi mengganggu stabilitas energi global.

Menurut Airlangga, Indonesia telah mengamankan sumber energi alternatif di luar kawasan Timur Tengah guna menjamin ketahanan energi domestik. Langkah ini mencakup pemanfaatan kerja sama perdagangan terbaru dengan Amerika Serikat melalui Agreement of Reciprocal Trade (ART) serta optimalisasi aset strategis yang dimiliki PT Pertamina di Amerika Latin.

"Kalau dari segi energi, karena kebetulan kita sudah menandatangani ART (Agreement of Reciprocal Trade), suplai energi kita juga sudah diperkuat melalui MoU dengan Amerika Serikat. Selain itu, Pertamina juga memiliki akses di Venezuela," kata Airlangga.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya