Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

RI Jadi Negara Paling Kuat Hadapi Krisis Energi Global 2026

Feby Novalius , Jurnalis-Rabu, 22 April 2026 |18:15 WIB
RI Jadi Negara Paling Kuat Hadapi Krisis Energi Global 2026
RI Jadi Negara Paling Kuat Hadapi Krisis Energi Global 2026 (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Indonesia menempati peringkat kedua sebagai negara paling kuat dalam menghadapi krisis energi global 2026 berdasarkan riset JPMorgan Asset & Wealth Management. Capaian ini diraih di tengah tekanan geopolitik akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang mengguncang stabilitas pasokan energi dunia.

“Situasi global saat ini tidak mudah. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel berdampak langsung pada rantai pasok energi dunia serta memicu ketidakpastian harga. Dalam konteks ini, posisi Indonesia yang relatif kuat bukan terjadi secara kebetulan, melainkan hasil kerja keras dan kecermatan dalam membaca situasi,” ujar Anggota DPR M Sarmuji, Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Dia menegaskan, capaian tersebut menjadi lebih berarti karena Indonesia masih merupakan negara net importir energi, khususnya minyak. Oleh karena itu, kemampuan bertahan di tengah tekanan global menunjukkan adanya kombinasi kebijakan yang tepat antara pengelolaan sumber daya domestik dan strategi mitigasi risiko.

Hal ini sejalan dengan hasil riset JPMorgan Asset & Wealth Management dalam laporan “Pandora’s Box: The Global Energy Shock of 2026” yang menempatkan Indonesia di peringkat kedua sebagai negara paling kuat menghadapi krisis energi global, dengan tingkat ketahanan sebesar 77 persen, tepat di bawah Afrika Selatan (79 persen).

Adapun peringkat negara dengan ketahanan energi tertinggi adalah sebagai berikut:

1. Afrika Selatan – 79%
2. Indonesia – 77%
3. China – 76%
4. Amerika Serikat – 70%
5. Australia – 68%
6. Swedia – 66%
7. Pakistan – 65%
8. Rumania – 64%
9. Peru – 63%
10. Kolombia – 60%

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement