JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup turun 24 poin atau sekitar 0,15 persen ke level Rp16.949 per dolar AS pada akhir perdagangan Senin (9/3/2026).
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu harga minyak melonjak hingga 30 persen jauh melampaui USD100 per barel dan mendekati level tertinggi yang terlihat selama awal perang Rusia-Ukraina pada tahun 2022.
“Serangan udara Israel dan AS menargetkan fasilitas minyak Iran selama akhir pekan, sementara Teheran membalas dengan meluncurkan serangan rudal terhadap beberapa fasilitas minyak di negara-negara Timur Tengah,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Iran juga secara efektif memblokir Selat Hormuz dengan menyerang kapal-kapal di jalur pelayaran tersebut, menurut laporan. Selat tersebut merupakan sumber minyak utama bagi sebagian besar Asia, dan potensi penutupannya akan menyebabkan gangguan pasokan bagi sebagian besar wilayah tersebut.
Selain itu, Iran pada hari Senin menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi, menandakan bahwa kelompok garis keras tetap memegang kendali di Teheran seminggu setelah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Di Asia, Inflasi indeks harga konsumen Tiongkok tumbuh 1,3 persen secara tahunan pada bulan Februari, menurut data pemerintah. Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan sebesar 0,9 persen dan juga tumbuh dengan laju tercepat dalam tiga tahun.
Angka inflasi yang kuat terutama didorong oleh peningkatan pengeluaran selama liburan Tahun Baru Imlek yang diperpanjang, karena permintaan untuk perjalanan, jasa, dan barang-barang diskresioner meningkat tajam.
Namun inflasi indeks harga produsen masih mengalami kontraksi, dan pasar kini mencari lebih banyak tanda apakah tren inflasi China akan berlanjut setelah lonjakan permintaan selama liburan.
Dari sentimen domestik, harga minyak dunia sudah menyentuh angka USD92 per barel, rekor tertinggi sejak 2020. Angka ini jauh melampaui asumsi makro APBN 2026 yang hanya mematok harga di kisaran USD70 per barel.
“Dan ini akan menaikkan defisit sebesar Rp 6,8 triliun. Apabila harga minyak terus meroket hingga mendekati atau bahkan melampaui USD100 per barel, dampaknya bakal fatal bagi fiskal nasional,” ujarnya.
Defisit APBN terhadap PDB bisa terdongkrak hingga mendekati 4 persen. Angka ini sangat berisiko karena melampaui batas 3 persen yang telah ditetapkan dalam UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara. Lumpuhnya Selat Hormuz sebagai choke point yang melayani 20 persen suplai minyak dunia menjadi dalang utama kemacetan pasokan ini
Menghadapi situasi genting ini, ada 3 langkah strategis yang harus segera diambil pemerintah. Pertama, melakukan efisiensi anggaran negara secara signifikan, sehingga belanja hanya untuk keperluan yang langsung berkaitan masyarakat. Belanja pemerintah harus difokuskan hanya untuk kebutuhan dasar rakyat seperti pendidikan, kesehatan, pangan, energi, dan pengentasan kemiskinan
Kedua, pengurangan konsumsi minyak dengan lebih gencar lagi program konversi energi dari minyak ke energi baru dan terbarukan. Di antaranya, energi matahari (PLTS) termasuk untuk industri dan perumahan, air (PLTA), angin (PLTB) sebagai pengganti PLTD (diesel).
Ketiga, stimulus ekonomi mesti digencarkan agar ekonomi tidak terpuruk dengan program deregulasi. Menurutnya, aturan-aturan yang menghambat perkembangan ekonomi bisa dipangkas. Begitu juga perlu debirokratisasi, birokrasi yang berbelit sehingga menyulitkan dunia usaha dapat disederhanakan.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.950-Rp17.000 per dolar AS.
(Taufik Fajar)