“Dana yang diperoleh dari retribusi jasa usaha ini digunakan untuk mendukung pembiayaan layanan publik, pemeliharaan fasilitas umum, peningkatan infrastruktur, serta pengembangan destinasi wisata yang lebih representatif dan nyaman,” ujarnya.
Dengan demikian, setiap kunjungan ke Monas tidak hanya memberikan pengalaman sejarah dan edukasi, tetapi juga menjadi bentuk partisipasi dalam mendukung pembangunan kota.
Monas terus berdiri sebagai representasi kolaborasi antara warisan sejarah dan pembangunan masa kini. Keberadaannya mencerminkan bagaimana sebuah simbol nasional dapat tetap hidup dan relevan, tidak hanya sebagai pengingat masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika pembangunan kota modern.
Melalui pengelolaan yang berkelanjutan, Monas diharapkan tetap menjadi ruang publik yang inspiratif, edukatif, dan berkontribusi nyata untuk Jakarta yang lebih baik di masa kini dan mendatang.
(Agustina Wulandari )