Jika dikonversi, total penghematan mencapai sekitar 3 juta kiloliter BBM per tahun—dari kombinasi 1 juta mobil listrik dan 5 juta motor listrik—yang setara dengan pengurangan impor minyak dalam jumlah signifikan. Dengan asumsi harga minyak global berada di kisaran USD90–100 per barel, pengurangan impor tersebut dapat menghemat devisa sekitar Rp30–40 triliun per tahun.
Selain itu, berkurangnya konsumsi BBM domestik berpotensi menekan beban subsidi dan kompensasi energi, sehingga ruang fiskal pemerintah dapat lebih difokuskan pada sektor produktif seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.
Lebih jauh, elektrifikasi transportasi memberikan efek ganda (multiplier effect), mulai dari penguatan industri baterai dalam negeri, peningkatan investasi, hingga penciptaan lapangan kerja baru di sektor manufaktur dan energi bersih.
Martinus mendorong pemerintah mempercepat adopsi kendaraan listrik melalui kebijakan yang terintegrasi, mulai dari insentif fiskal, pembangunan infrastruktur pengisian daya (SPKLU), hingga penguatan ekosistem industri kendaraan listrik nasional.
“Transisi ke kendaraan listrik bukan hanya langkah menuju energi bersih, tetapi juga strategi konkret untuk penghematan devisa, menjaga ketahanan fiskal, dan memperkuat kedaulatan energi nasional di tengah ketidakpastian global,” pungkasnya.
(Feby Novalius)