JAKARTA - Kemarau ekstrem yang belakangan populer dengan sebutan El Nino Godzilla memicu kewaspadaan berbagai pihak, termasuk pelaku industri perkebunan.
Meski istilah tersebut dinilai tidak ilmiah, ancaman kekeringan tetap menjadi perhatian serius, terutama bagi sektor kelapa sawit yang sangat bergantung pada keseimbangan curah hujan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan istilah tersebut tidak dikenal dalam kajian klimatologi.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyebut klasifikasi El Nino secara resmi hanya terbagi menjadi
lemah, moderat dan kuat.
“Saat ini prediksi kami menunjukkan peluang 50-60 persen terjadinya El Nino lemah hingga moderat setelah semester kedua,” ujarnya dikutip, Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Kendati demikian, bagi industri sawit, potensi anomali cuaca sekecil apa pun tetap memerlukan langkah antisipatif.
Hal itu pula yang mendorong PTPN IV PalmCo, Subholding Perkebunan Nusantara menetapkan status siaga menghadapi musim kemarau tahun ini.