Kesulitan Bahan Baku Impor, Pengusaha Dorong Pemerintah Beri Relaksasi

Rohman Wibowo, Jurnalis
Jum'at 03 April 2026 16:48 WIB
Bahan Baku Impor (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan ada isu kelangkaan bahan baku di tengah perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran. Kebijakan pemerintah lantas dinanti kalangan pengusaha guna memastikan produksi terus berlanjut.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Bob Azam, menekankan kelangkaan bahan baku plastik untuk sektor strategis seperti industri makanan dan minuman hingga otomotif dirasakan betul. Sehingga berdampak pada tingkat supply yang tidak seimbang dengan tingkat permintaan.

"Kami berharap jangan sampai ada bottlenecking terhadap bahan baku dan lain sebagainya. Kami mengimbau kepada pemerintah untuk diberi relaksasi untuk bahan baku terutama yang import. Jadi saya berharap bahwa kelangkaan bahan baku plastik ini jangan sampai mengganggu produksi," kata Bob kepada awak media, dikutip Jumat (3/4/2026).

Bob mewanti-wanti risiko inflasi harga atas barang dan jasa yang dihasilkan dunia usaha, jika tingkat produksi menurun akibat kelangkaan bahan baku. Meski begitu, dunia usaha untuk saat ini masih menempatkan kenaikan harga sebagai pilihan terakhir. 

"Biasanya kalau otomotif, kami justru mempertahankan (harga)," ujarnya.

Kalangan pengusaha, kata Bob, kini sedang mengupayakan inovasi dalam hal produksi. Diversifikasi digadang-gadang menjadi satu di antara opsi untuk menyiasati kelangkaan bahan baku. 

"Kami sih berharap akan muncul inovasi-inovasi baru di setiap kesulitan, termasuk kesulitan bahan baku yang saat ini kami hadapi," ucap dia.

Bicara soal ketersediaan bahan baku, memang menjadi isu bagi dunia usaha saat perang di Timur Tengah berkecamuk. Seperti industri tekstil di sektor hulu, yang memprediksi stok bahan baku hanya cukup beberapa pekan sejak perang dimulai. 

 

"Kalau untuk saat ini belum ada pengaruh karena stok bahan baku kita yg berasal dari Timteng yaitu MEG masih ada untuk 2-3 Minggu ke depan," kata ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta kepada iNews Media Group pada 10 Maret 2026.

Di awal masa perang AS-Israel dan Iran, kenaikan harga bahan baku dan tingkat ekspor menjadi isu. Hal ini tak terlepas dari ketidakpastian keamanan kawasan yang mempengaruhi jalur perdagangan.

"Harga PX, PTA dan MEG di pasar spot sudah naik, PX sudah diatas USD 1000/ton, PTA sudah diatas 750 dan MEG sudah di atas 600. Untuk ekspor saat ini terkendala biaya logistik khusus ya yg ke Timteng dan Eropa yg naik sekitar 25 persen karena ditambahkan biaya resiko," ujar Redma.

(Taufik Fajar)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya