JAKARTA - Mengintip pembangunan proyek Tol Harbour Road II (HBR II) ruas Ancol Timur-Pluit dengan nilai investasi Rp15,8 triliun. PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) selaku kontraktor buka-bukaan soal update proyek Tol Harbour Road II hingga kendala pembebasan lahan.
Jalan Tol Harbour Road II sepanjang 9,69 kilometer dirancang sebagai jalan tol layang (elevated) dengan kecepatan desain 80 km per jam. Ruas ini menghubungkan Ancol Timur-Pluit dan dilengkapi dua simpang susun junction, yaitu Junction Ancol Timur dan Junction Pluit.
Menurut Project Manager HBR II Hari Purnama, ada beberapa tantangan dalam pengerjaan proyek Tol Harbour Road II ruas Ancol Timur-Pluit. Tantangan tersebut seperti berada di dekat rel kereta api, pemukiman warga hingga pekerjaan dilakukan di area jalan tol maupun jalan nasional yang tetap aktif dilalui kendaraan.
"Challange ada di samping rel kereta dan jalan tol aktif, ini terkait traffic management di mana kami bekerja di area jalan tol atau mungkin jalan nasional yang aktif,” ujar Hari di Jakarta, Senin (6/4/2026).
Pihaknya akan mempercepat pengerjaan proyek tol dari sisi selatan dan utara. Pada ujung barat sisi selatan proyek masih tersisa sekitar satu kilometer pekerjaan menuju arah Pluit. Area tersebut memiliki kepadatan tinggi sehingga membutuhkan metode konstruksi yang paling aman.
Untuk sisi selatan, ditargetkan dapat beroperasi tahun ini karena masih ada sisa pembebasan lahan sekira 1 kilometer (km). Untuk pembebasan lahan dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Badan Pertanahan Nasional (BPN)/ATR.
Sementara, di sisi utara, proses pembebasan lahan masih berlangsung di beberapa titik. Area tersebut nantinya akan menutup jalan eksisting di sisi utara untuk mendukung konektivitas proyek.
“Di area ini struktur dasar sudah selesai dan selanjutnya akan berlanjut ke pekerjaan berikutnya,” katanya.
Secara keseluruhan, pengerjaan proyek tersebut masih dibayangi tantangan pembebasan lahan yang baru mencapai 45%. Sementara, hingga kuartal I-2026, WIKA telah merealisasikan progres fisik 32,31%. Dalam proyek ini, WIKA mendapatkan nilai kontrak Rp5,82 triliun.
Selain itu, kondisi bawah tanah juga menjadi kendala karena terdapat berbagai utilitas yang harus disesuaikan, bahkan direlokasi. Utilitas tersebut meliputi pipa gas maupun kabel optik.
Hari menegaskan, pihaknya berupaya menyesuaikan desain struktur agar tidak mengganggu utilitas yang ada. Namun, jika tidak memungkinkan, relokasi akan dilakukan dengan perencanaan matang. Nantinya ruas tol Harbour Road II akan terintegrasi kembali dengan Harbour Road I di area exit sebelum tersambung ke arah Bandara Soekarno-Hatta.
Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito menambahkan, jalan tol ini memiliki pembangunan dua sisi yakni selatan dan utara. Untuk jalan tol sisi selatan ditargetkan dapat beroperasi tahun ini.
"WIKA bertanggung jawab untuk design dan membangun," katanya.