Menurut Purbaya, indikator moneter saat ini menunjukkan performa yang solid. Pertumbuhan uang inti (M0) yang berada di level 19 persen diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit perbankan hingga di atas 22 persen. Kondisi ini dipandang sebagai bukti bahwa aktivitas ekonomi riil terus berjalan.
Selain dari sisi efisiensi, pemerintah juga membidik tambahan pendapatan dari sektor komoditas. Saat ini, Kementerian Keuangan bersama Kementerian ESDM sedang mematangkan skema baru terkait royalti dan bea keluar untuk menangkap potensi windfall (keuntungan tak terduga) dari kenaikan harga komoditas global.
“Nanti ada perubahan skema dari tim teknis Kementerian Keuangan dan Kementerian ESDM. Mungkin besok mulai dijelaskan tentang bea keluar, royalti, dan lain-lain. Yang jelas, itu ada potensi tambahan pendapatan yang signifikan,” pungkas Purbaya.
(Feby Novalius)