Rupiah Tertekan Dolar AS, Sempat Sentuh Titik Terendah Sepanjang Sejarah

Anggie Ariesta, Jurnalis
Minggu 10 Mei 2026 11:59 WIB
Nilai tukar rupiah sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah Indonesia. (Foto: Okezone.com)
Share :

JAKARTA – Nilai tukar rupiah sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah Indonesia. Mata uang Garuda mencatat pergerakan yang sangat fluktuatif sepanjang pekan ini di tengah tingginya ketidakpastian pasar global.

Setelah sempat terperosok ke titik terendah dalam sejarah, mata uang Garuda diprediksi masih akan menghadapi tekanan pada awal pekan depan meskipun terdapat potensi penguatan yang terbatas.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat menyentuh level terlemahnya di posisi Rp17.424 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (5/5). Meski sempat menguat ke kisaran Rp17.333 pada Kamis (7/5), rupiah kembali ditutup melemah tipis di level Rp17.382 pada akhir perdagangan Jumat (8/5).

Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan volatilitas ini masih akan berlanjut pada pembukaan pasar pekan depan.

"Sedangkan untuk perdagangan Senin besok, mata uang rupiah diperkirakan fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp17.380-Rp17.430," ungkap Ibrahim dalam risetnya.

Penyebab utama tekanan terhadap rupiah berasal dari kembali memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Harapan pasar terhadap gencatan senjata antara AS dan Iran yang sempat menguat kini meredup setelah pertempuran kembali pecah. Kondisi tersebut mengancam stabilitas pasokan energi dan pembukaan Selat Hormuz.

Selain faktor perang, perbedaan pandangan di internal bank sentral AS, The Fed, turut membingungkan pasar. Sementara Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, menilai suku bunga akan stabil, Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, justru khawatir terhadap inflasi yang masih tinggi. Pasar kini menantikan data tenaga kerja AS periode April untuk menentukan arah kebijakan suku bunga ke depan.

"Para ekonom memperkirakan adanya penambahan 62.000 lapangan kerja di AS pada April, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap stabil di 4,3 persen. Laporan ini kemungkinan akan menentukan langkah selanjutnya Federal Reserve (The Fed) terkait kebijakan suku bunga," ungkap Ibrahim.

Dari dalam negeri, sentimen negatif juga berasal dari laporan posisi utang pemerintah. Data Bank Indonesia mencatat total utang pemerintah per 31 Maret 2026 telah menembus Rp9.920,42 triliun.

Angka tersebut naik hampir 3 persen dibandingkan posisi Desember 2025 sebesar Rp9.637,9 triliun. Dengan capaian tersebut, rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir kuartal I-2026 tercatat berada di level 40,75 persen. Kondisi beban fiskal ini menjadi perhatian pasar dan turut memengaruhi kepercayaan investor terhadap mata uang domestik.

(Feby Novalius)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya