“Kita melihat situasi di Selat Hormuz semakin memanas setelah ada kapal kargo India tenggelam di perairan lepas pantai Oman. Ini juga menambah ketegangan di Timur Tengah,” jelas Ibrahim.
Ibrahim juga menyoroti tingginya beban anggaran subsidi minyak mentah domestik. Ia memprediksi apabila tekanan ini tidak diantisipasi secara agresif melalui kebijakan suku bunga domestik, rupiah berisiko menembus level psikologis baru.
“Dalam perdagangan Mei ini kemungkinan besar rupiah ke Rp18.000 per dolar AS akan tembus. Kalau seandainya tembus, ada kemungkinan besar rupiah bisa menyentuh level Rp22.000 per dolar AS pada Agustus,” pungkas Ibrahim.
(Feby Novalius)