Rupiah Bisa Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ini Jurus BI-Kemenkeu Jaga Stabilitas

Anggie Ariesta, Jurnalis
Sabtu 16 Mei 2026 12:49 WIB
Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan akibat dinamika ekonomi global dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. (Foto: Okezone.com)
Share :

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan akibat dinamika ekonomi global dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah berada di posisi Rp17.496 per dolar AS pada akhir perdagangan Rabu (13/5/2026), atau melemah 4,6 persen secara year-to-date (ytd).

Sementara di pasar spot pada penutupan Jumat (15/5/2026), rupiah bertengger di level Rp17.596 per dolar AS.

Menanggapi situasi ini, Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bergerak cepat memperkuat kolaborasi guna menahan depresiasi mata uang Garuda di tengah melonjaknya indeks dolar AS dan imbal hasil US Treasury yang mendekati 4,5 persen.

BI menekankan pentingnya kerja sama seluruh pihak dalam menghadapi tantangan eksternal yang turut menekan mata uang negara Asia lainnya, seperti peso Filipina, baht Thailand, rupee India, dan won Korea Selatan.

“Kami mengajak semua elemen, semua unsur negeri untuk sama-sama bersinergi dan berkolaborasi membantu ekonomi negara ini dengan peran kita masing-masing,” ujar Ramdan di kompleks BI, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Selain tekanan eksternal, rupiah secara musiman juga terbebani aktivitas repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri korporasi. Untuk memitigasi risiko tersebut, Gubernur BI Perry Warjiyo menyiapkan tujuh jurus penguatan rupiah.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya