Menjaga Nyala Negeri: Hulu Migas dan Pertaruhan Masa Depan Energi Indonesia

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis
Minggu 17 Mei 2026 15:14 WIB
Menjaga Nyala Negeri: Hulu Migas dan Pertaruhan Masa Depan Energi Indonesia (Foto: Ilustrasi Pertamina Hulu Indonesia)
Share :

Ketika Energi Menghidupkan Daerah

Di banyak daerah penghasil minyak dan gas bumi, suara mesin industri migas bukan sekadar penanda aktivitas pengeboran. Ia adalah denyut ekonomi yang menghidupkan jalan-jalan desa, membuka lapangan kerja, menggerakkan usaha lokal, hingga menopang pembangunan daerah.

Di balik setiap tetes minyak yang diangkat dari perut bumi, ada rantai panjang manfaat ekonomi yang mengalir ke masyarakat.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pertamina Rinto Pudyantoro menjelaskan, kontribusi industri hulu migas terhadap daerah sesungguhnya sangat besar dan berlapis.

Menurutnya, manfaat tersebut dapat dilihat dari berbagai komponen utama, mulai dari Dana Bagi Hasil (DBH), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) migas, hingga Participating Interest (PI) 10 persen yang melibatkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Sebagai contoh, pada 2023 Provinsi Riau menerima DBH migas sebesar Rp3,6 triliun dan PBB migas sebesar Rp3,9 triliun. Angka itu bukan sekadar statistik fiskal. Di baliknya ada peluang pembangunan infrastruktur, peningkatan layanan publik, hingga penguatan ekonomi daerah yang seharusnya dapat dirasakan langsung masyarakat.

“Seringkali muncul persepsi bahwa keberadaan industri migas tidak memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Padahal, jika dilihat secara komprehensif, industri ini justru memberikan dampak ekonomi yang sangat besar dan berlapis bagi daerah,” ujar Rinto di Jakarta, Rabu 1 April 2026.

Pernyataan itu menggambarkan satu realitas penting: industri hulu migas bukan sektor yang berdiri sendiri. Ia menciptakan perputaran ekonomi yang luas. Aktivitas operasional wilayah kerja migas membutuhkan barang dan jasa, melibatkan kontraktor lokal, menyerap tenaga kerja daerah, hingga memicu pertumbuhan usaha kecil di sekitar wilayah operasi.

Ketika proyek migas berjalan, hotel terisi, rumah makan hidup, transportasi bergerak, dan pelaku usaha lokal ikut merasakan dampaknya. Multiplier effect itu bahkan menjalar lebih jauh.

Industri hulu migas juga menopang pengembangan industri turunan, menyediakan energi untuk kebutuhan domestik seperti pembangkit listrik, hingga mendorong pembangunan fasilitas umum bagi masyarakat sekitar.

Belum lagi berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan PPM yang kini semakin diarahkan untuk menciptakan dampak jangka panjang.

“Multiplier effect industri hulu migas tidak hanya berhenti pada penerimaan negara, tetapi juga menjalar ke berbagai sektor, termasuk tenaga kerja lokal, infrastruktur hingga penguatan ekonomi daerah secara keseluruhan,” kata Rinto.

Besarnya kontribusi sektor migas terhadap penerimaan negara juga terlihat dari PBB. Pada 2022, total PBB nasional mencapai Rp24,01 triliun. Dari jumlah tersebut, PBB migas menyumbang Rp13,711 triliun atau lebih dari separuh total penerimaan PBB nasional.

Angka itu menunjukkan bahwa sektor hulu migas masih menjadi salah satu fondasi penting perekonomian nasional. 

Namun di balik besarnya potensi tersebut, tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana pemerintah daerah mengelola manfaat ekonomi yang diperoleh. Rinto menilai besarnya Dana Bagi Hasil Migas tidak otomatis menjamin kesejahteraan masyarakat jika tidak dibelanjakan secara tepat dan produktif.

Karena itu, masa depan energi Indonesia bukan hanya soal meningkatkan produksi migas, tetapi juga memastikan hasilnya benar-benar diubah menjadi pembangunan yang berkelanjutan.

Di tengah tren penurunan produksi migas nasional dan tekanan transisi energi global, sektor ini memang menghadapi tantangan besar. Namun bagi Indonesia, hulu migas masih memegang peran penting sebagai penyangga ekonomi nasional maupun daerah. Setidaknya untuk hari ini.

Sebab di tengah ambisi menuju energi bersih, Indonesia tetap membutuhkan energi yang andal untuk menjaga industri tetap hidup, listrik tetap menyala dan ekonomi tetap bergerak.

Kontribusi Nyata Industri Hulu Migas

Selama ini sektor hulu migas lebih sering dipandang sebagai penyumbang penerimaan negara atau sumber energi nasional. Padahal, dampaknya jauh lebih luas: menjadi motor penggerak ekonomi daerah melalui DBH, PBB migas, hingga efek berganda (multiplier effect) yang menghidupkan ekonomi lokal.

Rinto menegaskan kontribusi industri hulu migas terhadap daerah sesungguhnya sangat nyata. “Kontribusi hulu migas terhadap daerah dapat dilihat secara langsung dari Dana Bagi Hasil migas dan Pajak Bumi dan Bangunan migas. Ini adalah bentuk nyata penerimaan yang langsung masuk ke kas daerah dan menjadi bagian dari APBD,” ujarnya.

Pernyataan itu menggambarkan bahwa sektor migas bukan hanya soal eksplorasi dan produksi energi, tetapi juga menyangkut bagaimana kekayaan sumber daya alam diubah menjadi pembangunan nyata bagi daerah penghasil.

Menurut Rinto, DBH migas merupakan bagian penerimaan negara yang dibagikan kembali kepada daerah, sementara PBB migas menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam struktur penerimaan pajak nasional. Yang menarik, sebagian besar penerimaan tersebut kembali ke daerah.

“Dalam konteks nasional, sektor migas menyumbang sekitar setengah dari total penerimaan PBB. Sekitar 98 persen dari penerimaan itu didistribusikan kembali ke daerah. Artinya, manfaat ekonomi sektor migas sangat besar bagi daerah penghasil,” katanya.

Di daerah, dampaknya terlihat nyata. Kabupaten Tanjung Jabung di Provinsi Jambi menjadi salah satu contoh bagaimana industri hulu migas mampu menopang pembangunan daerah. 

Aktivitas operasional PetroChina International Jabung Ltd tercatat memberikan kontribusi sekitar Rp698 miliar melalui Dana Bagi Hasil migas dan sekitar Rp280 miliar dari PBB migas berdasarkan data Kementerian Keuangan tahun 2025. ilai tersebut menjadi salah satu kontribusi terbesar di Provinsi Jambi.

Angka itu bukan sekadar catatan fiskal. Di baliknya ada pembangunan infrastruktur, layanan pendidikan, fasilitas kesehatan, hingga program kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada stabilitas penerimaan daerah dari sektor energi.

Namun kontribusi industri hulu migas tidak berhenti pada angka penerimaan. Rinto menilai dampak terbesar justru datang dari efek berantai yang diciptakan aktivitas industri tersebut terhadap ekonomi lokal.

“Seringkali kita hanya melihat dari sisi penerimaan negara atau daerah, padahal itu baru sebagian kecil dari keseluruhan dampak. Aktivitas hulu migas menciptakan efek berantai, mulai dari penciptaan lapangan kerja, perputaran ekonomi lokal, hingga dukungan terhadap sektor lain seperti listrik dan industri,” ungkapnya.

Ketika proyek migas berjalan, roda ekonomi daerah ikut berputar. Pelaku usaha lokal mendapat pekerjaan, kebutuhan barang dan jasa meningkat, tenaga kerja terserap, dan sektor-sektor penunjang ikut tumbuh. Bahkan industri hulu migas juga berperan penting dalam menjaga pasokan energi bagi pembangkit listrik dan kebutuhan industri nasional.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya