Menurut Ani, intervensi di pasar spot, DNDF, dan instrumen valas lainnya tetap penting, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya garis pertahanan. Penurunan cadangan devisa dari US$148,2 miliar pada akhir Maret menjadi US$146,2 miliar pada akhir April 2026 menunjukkan bahwa strategi stabilisasi memang sedang bekerja, tetapi juga mengandung biaya yang tidak kecil. Bank Indonesia sendiri menyebut penurunan tersebut dipengaruhi oleh kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
Ani menyatakan bahwa kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin memiliki fungsi ganda.
“Di satu sisi, secara mekanisme transmisi moneter, kenaikan ini akan meningkatkan imbal hasil instrumen keuangan domestik sehingga berpotensi menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia. Di sisi lain, yang tidak kalah penting, kebijakan ini berperan sebagai policy signalling yang dapat membentuk ekspektasi pasar. Dalam situasi ketidakpastian tinggi, ekspektasi sering kali menjadi determinan utama dalam pergerakan nilai tukar, sehingga langkah kecil namun kredibel dapat menghasilkan dampak yang signifikan dalam jangka pendek,” tutur Ani, Selasa (19/5/2026).
Meski demikian, ada beberapa trade-off yang perlu diwaspadai pemerintah.
“Kenaikan suku bunga dapat menahan laju investasi dan konsumsi berbasis kredit dalam jangka pendek. Namun dalam situasi kurs yang sudah tertekan sedalam ini, biaya dari tidak bertindak bisa jauh lebih besar. Pelemahan rupiah yang berlanjut berisiko memicu imported inflation, memperbesar beban utang valas, dan memperburuk persepsi risiko investor terhadap Indonesia,” tambah Ani.