JAKARTA - Industri properti melakukan penyesuaian bisnisnya setelah gen Z dan milenial kini menjadi kelompok yang paling aktif mencari sekaligus membeli rumah melalui fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, perubahan perilaku konsumen mendorong transformasi industri properti dan pembiayaan perumahan. Jika sebelumnya proses pembelian rumah dimulai dengan mengunjungi marketing gallery, kini mayoritas pencari hunian memulai perjalanan mereka melalui smartphone.
“Data menunjukkan bahwa 63,5% pencarian hunian berasal dari kelompok Gen Z dan Milenial usia 18–44 tahun. Mereka kini menjadi motor utama permintaan properti di Indonesia, dengan total populasi mencapai 140,3 juta jiwa atau hampir 49,3% dari total penduduk Indonesia,” ujar Nixon, Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Menurut Nixon, tren tersebut juga tercermin dari profil debitur BTN saat ini. Sebanyak 95,3% debitur KPR BTN berasal dari kalangan Gen Z dan Milenial, menunjukkan tingginya minat generasi muda terhadap kepemilikan rumah meski dihadapkan pada berbagai tantangan ekonomi.
“Kami ingin memastikan bahwa proses memiliki rumah menjadi semakin mudah, cepat, dan nyaman. Faktanya, saat ini debitur KPR BTN telah didominasi oleh Gen Z dan Milenial dengan porsi mencapai 95,3%. Ini menjadi bukti kuat bahwa masa depan industri pembiayaan perumahan adalah masa depan yang digital,” kata Nixon.
BTN menilai, generasi muda tidak hanya membutuhkan akses pembiayaan yang terjangkau, tetapi juga pengalaman membeli rumah yang praktis dan terintegrasi. Karena itu, perseroan terus mengembangkan strategi Beyond Mortgage agar dapat mendampingi nasabah sejak tahap pencarian rumah, pengecekan kemampuan finansial, pengajuan pembiayaan, hingga pengelolaan hunian.
Nixon menegaskan bahwa penguatan ekosistem perumahan digital tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja. Menurutnya, kolaborasi antar-pelaku industri menjadi kunci untuk memperluas akses kepemilikan rumah bagi masyarakat.
“Masa depan industri perumahan tidak dapat dibangun oleh satu institusi saja, melainkan melalui kolaborasi dan integrasi. Kami ingin membangun ekosistem properti yang lebih modern, inklusif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, CEO 99 Group Indonesia Darius Cheung mengatakan bahwa kebutuhan masyarakat saat ini tidak lagi sekadar mencari informasi properti, tetapi juga memperoleh akses yang lebih mudah menuju kepemilikan rumah. Konsumen datang ke platform properti bukan hanya untuk melihat listing, tetapi karena memiliki tujuan untuk membeli rumah.
“Konsumen tidak datang hanya untuk melihat listing, mereka datang karena ingin punya rumah. Semakin lengkap ekosistem yang kami bangun bersama mitrasemakin banyak orang yang bisa mewujudkan hunian impiannya,” tuturnya.
(Dani Jumadil Akhir)