JAKARTA - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara bersih-bersih PT Pos Indonesia (Persero). Sebab, Danantara menemukan sejumlah pelanggaran dan penyimpangan di PT Pos Indonesia (Persero) yang terakumulasi selama bertahun-tahun, termasuk dugaan rekayasa keuangan.
Sementara itu, Daud Joseph mundur dari jabatan Direktur Utama PT Pos Indonesia. Danantara segera menyiapkan kepemimpinan baru untuk melanjutkan agenda restrukturisasi Pos Indonesia.
Berikut ini Okezone rangkum fakta-fakta PT Pos Indonesia diduga rekayasa keuangan, Jakarta, Minggu (5/7/2026).
Managing Director Stakeholders Management & Communications Danantara Rohan Hafas mengatakan, dari hasil due diligence dan evaluasi yang dilakukan, Danantara menemukan berbagai persoalan keuangan dan tata kelola yang telah terakumulasi selama bertahun-tahun di Pos Indonesia.
Selain itu, terdapat laporan dan indikasi adanya sejumlah penyimpangan, termasuk dugaan rekayasa keuangan, yang kini sedang ditindaklanjuti melalui proses audit dan investigasi sesuai ketentuan yang berlaku.
"Danantara menegaskan seluruh persoalan yang selama ini membebani perusahaan akan diselesaikan secara bertahap. Tidak ada toleransi terhadap praktik yang merusak tata kelola perusahaan," ujar Rohan dalam keterangan resmi, Jumat (3/7/2026).
Rohan menegaskan, setiap temuan akan ditindaklanjuti secara profesional, transparan, dan sesuai dengan proses hukum.
Fokus utama pembenahan ini adalah mengembalikan PT Pos Indonesia menjadi perusahaan yang sehat, profesional, akuntabel, dan berintegritas sehingga mampu menjalankan mandatnya secara optimal dalam melayani masyarakat.
Bersamaan dengan temuan tersebut, Danantara juga telah menerima surat pengunduran diri Direktur Utama PT Pos Indonesia Dauh Joseph pada Senin (29/6).
Rohan menyebut, selama sekitar tiga bulan terakhir, yang bersangkutan ditugaskan memimpin proses pembenahan PT Pos Indonesia melalui pelaksanaan due diligence secara menyeluruh terhadap aspek keuangan, operasional, tata kelola, hingga organisasi perusahaan.
"Berdasarkan hasil asesmen tersebut, yang bersangkutan menyampaikan bahwa PT Pos Indonesia memerlukan revamp yang menyeluruh dan fundamental. Menurut beliau, kompleksitas persoalan yang dihadapi serta agenda restrukturisasi ke depan membutuhkan expertise yang lebih spesifik untuk memimpin fase transformasi berikutnya," kata Rohan.
Sementara itu, Direktur Utama Pos Indonesia, Daud Joseph resmi mengajukan pengunduran diri dari jabatannya pada 2 Juli 2026, atau tidak lama berselang pasca penggabungan BUMN logistik menjadi satu ekosistem beberapa hari lalu.
Corporate Secretary Pos Indonesia Iwan Gunawan menjelaskan alasan pengunduran diri ialah pertimbangan dan keinginan pribadi yang bersangkutan. Meski demikian seluruh proses transisi kepemimpinan bakal dilaksanakan sesuai dengan tata kelola yang berlaku.
"Alasan pengunduran diri adalah murni dari keinginan dan pertimbangan pribadi yang bersangkutan," ujarnya dalam Holding Statement Perseroan, Kamis (2/7/2026).
Pos Indonesia menghormati keputusan tersebut serta menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas dedikasi, pengabdian, dan kontribusi yang telah diberikan selama memimpin perusahaan.
Iwan mengatakan, selama proses tersebut berlangsung, Pos Indonesia memastikan kegiatan operasional perusahaan tetap berjalan dan tidak mengganggu proses layanan kepada seluruh stakeholder.
Sebagai bagian dari Danantara, Perseroan tetap berkomitmen menjalankan amanah Pemegang Saham dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, memperkuat kinerja perusahaan, serta menjalankan program kerja strategis yang sedang berlangsung.
"PT Pos Indonesia menegaskan bahwa saat ini kondisi operasional tetap berjalan lancar dan baik. Seluruh pelaksanaan program transformasi dan agenda strategis Perusahaan terus berjalan sesuai rencana Perusahaan," tutup Iwan.
Sebelumnya Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara resmi menggabungkan 7 BUMN di sektor logistik. Langkah ini diharapkan mampu memangkas biaya logistik nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat regional maupun global.
Adapun ke 7 perusahaan yang bergabung yakni Pelindo Sinergi Lokaseva Multiterminal Indonesia, Pelindo Sinergi Lokaseva Prima Indonesia Logistik, Pos Logistics, Pelni Logistics, PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN), PT Varia Usaha Dharma Segara (VUDS), dan Krakatau Integrated Logistics.
Adapun PT Multi Terminal Indonesia akan menjadi entitas bertahan (surviving entity), alias wadah bagi ketujuh perusahaan selama masa transisi.
(Dani Jumadil Akhir)