Pasar terlihat terus meningkatkan taruhan mereka pada kenaikan suku bunga Fed pada tahun 2026 pekan ini, menurut CME Fedwatch Tool, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 63 persen pada pertemuan di bulan September.
Di sisi lain, jumlah warga Amerika yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran turun minggu lalu, menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja tetap dalam mode “perekrutan lambat, pemecatan lambat”.
Presiden Federal Reserve New York, John Williams mengatakan, "Inflasi masih terlalu tinggi," menambahkan bahwa Fed "secara aktif membahas skenario seputar inflasi" dan tetap berkomitmen untuk mengembalikan inflasi ke target 2 persen.
Dari sentimen doemstik, pasar merespon positif mengenai pernyataan International Monetary Fund mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5,0 persen pada 2026.
IMF juga memproyeksikan bahwa produk domestik bruto (PDB) Indonesia akan tumbuh mencapai 5,1 persen pada 2027. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ini berada di atas rata-rata pertumbuhan kelompok negara berkembang di kawasan Asia (Emerging and Developing Asia), yang diproyeksikan tumbuh melambat di level 4,8 persen pada 2026.
Selain itu, Asian Development Bank proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5,2 persen pada 2026 dan 2027. ADB menilai prospek ekonomi Indonesia tetap stabil. Proyeksi 5,2 persen untuk 2026 ini tidak mengalami perubahan apabila dibandingkan dengan laporan ADO pada April lalu.
Kendati demikian, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5 persen pada tahun ini masih berada di bawah target pemerintah. Dalam APBN 2026, pemerintah dan DPR menetapkan target pertumbuhan mencapai 5,4 persen.
Selain itu, Kenaikan penjualan mobil nasional sepanjang semester I-2026 dinilai belum bisa dijadikan bukti daya beli masyarakat telah pulih sepenuhnya. Meski penjualan kendaraan menunjukkan tren positif, pemulihan konsumsi rumah tangga dinilai masih berlangsung secara bertahap.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales atau distribusi dari pabrikan ke dealer mencapai 77.550 unit pada Juni 2026, meningkat 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan tersebut melanjutkan pertumbuhan 14 persen pada Mei 2026, sekaligus menjadi bulan ketiga berturut-turut penjualan mobil mencatatkan pertumbuhan secara tahunan.
Secara kumulatif, penjualan mobil baru sepanjang semester I-2026 mencapai 436.564 unit, atau meningkat 15,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Capaian ini mencerminkan permintaan konsumen yang tetap kuat meskipun masyarakat masih menghadapi tekanan inflasi dan kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.060-Rp18.110 per dolar AS. Sedangkan untuk sepekan depan di rentang Rp17.870-Rp18.300 per dolar AS.
(Taufik Fajar)