"Kemudian kita dorong program perumahan karena perumahan itu kunci untuk masyarakat kelas menengah dan ke bawah, dimana salah satunya kan dari program baru yang diluncurkan dengan kredit usaha rakyat yang sampai Rp5 miliar. Dan realisasinya ini cukup bagus dan sampai akhir tahun kita naikkan plafonnya ke Rp 50 triliun," ungkap Airlangga.
Untuk mengamankan level konsumsi domestik agar tidak merosot, pemerintah tetap melanjutkan rangkaian paket stimulus fiskal dan insentif energi. Beberapa kebijakan penopang daya beli yang masih bergulir aktif antara lain insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), PPh Ditanggung Pemerintah, program belanja hari libur, serta komitmen mempertahankan harga jual eceran BBM jenis Pertalite dan produk biodiesel pada tingkat harga subsidi.
"Kemudian PPN DTP, PPh ditanggung pemerintah kita masih jalankan. Kemudian juga kita untuk mendorong daya beli termasuk untuk program liburan ini juga kita dorong. Kemudian kita jaga kan harga Pertalite dan harga biodiesel kita jaga pada harga subsidi," kata Airlangga.
Sebagai informasi, Knight Frank memprediksi bahwa jumlah kelompok Ultra High Net Worth Individuals (UHNWI) atau individu dengan kepemilikan kekayaan bersih minimal USD30 juta (setara Rp540 miliar dengan acuan kurs Rp18.000 per dolar AS) di Indonesia akan meroket tajam pada tahun 2031.
Berdasarkan kalkulasi mereka, jumlah populasi super kaya di Indonesia diproyeksikan melonjak dari posisi 3.866 orang di tahun 2026 menjadi 6.966 orang pada tahun 2031 kelak.
"Indonesia berada di peringkat teratas, dengan jumlah penduduk yang memiliki kekayaan lebih dari US$ 30 juta diperkirakan melonjak 82% pada 2031," tulis draf laporan Knight Frank.
Melalui estimasi pertumbuhan kumulatif sebesar 82 persen tersebut, laju penambahan jumlah orang super kaya di Indonesia dilaporkan berhasil menempati peringkat teratas global.
Rapor ekspansi kekayaan ini tercatat sukses mengungguli performa pertumbuhan negara berkembang besar lainnya, seperti Arab Saudi serta Polandia, yang masing-masing diprediksi hanya akan tumbuh di kisaran level 60 persen.
(Taufik Fajar)