JAKARTA - PT Elnusa Petrofin (EPN), anak usaha PT Elnusa Tbk (ELSA), meningkatkan pengawasan distribusi energi yang mencakup bahan bakar minyak (BBM), LPG, aviasi, petrokimia, pelumas, pengelolaan terminal energi, hingga layanan logistik kimia. Operasional perusahaan saat ini tersebar di lebih dari 98 lokasi di seluruh Indonesia dan mendukung distribusi energi melalui jaringan 51 Fuel Terminal Pertamina Patra Niaga.
Kompleksitas operasional tersebut didukung oleh pemanfaatan sistem digital, salah satunya melalui Road Traffic Control (RTC) yang beroperasi selama 24 jam untuk memantau armada distribusi energi secara real-time. Sistem ini terintegrasi dengan lebih dari 2.900 perangkat GPS dan lebih dari 2.200 unit CCTV armada untuk memantau pergerakan kendaraan, perilaku berkendara, kondisi perjalanan, serta aktivitas operasional.
“Kami membangun sistem, proses, dan budaya kerja yang memastikan setiap distribusi energi dapat berjalan secara aman, tepat waktu, dan andal untuk mendukung kebutuhan masyarakat di seluruh Indonesia,” ujar Ferdiansyah, Jumat (17/7/2026).
Dalam pengendalian risiko operasional, Elnusa Petrofin menerapkan sistem Journey Risk Management pada armada distribusi energi. Sistem tersebut digunakan untuk mengidentifikasi potensi risiko perjalanan sejak tahap perencanaan rute hingga kendaraan tiba di lokasi tujuan.
Setiap perjalanan dipantau untuk memastikan potensi risiko dapat diantisipasi lebih awal, sehingga keselamatan pengemudi, kendaraan, dan muatan tetap terjaga.
Perusahaan juga menerapkan pemeriksaan kesiapan kerja bagi Awak Mobil Tangki (AMT) sebelum menjalankan tugas distribusi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi pengemudi tetap prima dan mengurangi risiko akibat kelelahan maupun faktor manusia.
Selain itu, fasilitas pendukung seperti area istirahat dan titik pemeriksaan disediakan di sejumlah jalur distribusi untuk membantu menjaga kondisi pengemudi selama perjalanan jarak jauh.
Dari sisi keandalan armada, perusahaan menjalankan sistem pemeliharaan kendaraan secara terintegrasi melalui Maintenance Management System (MMS). Proses inspeksi dan perawatan dilakukan secara berkala dengan dukungan data pemeliharaan digital untuk membantu pengambilan keputusan operasional.
Dalam mendukung keamanan distribusi energi, perusahaan juga menerapkan sistem pengawasan pada sejumlah kegiatan penyaluran di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) strategis, termasuk di wilayah Jambi, Medan, dan Pontianak. Sistem tersebut digunakan untuk memperkuat pengawasan operasional serta memastikan kegiatan berjalan sesuai prosedur keselamatan.
Selain transportasi energi, perusahaan juga melakukan pengelolaan fasilitas energi, seperti SPBE Bima, SPPBE Gunung Sitoli Nias, TBBM Bajo, TBBM Tembilahan, serta LPG Terminal Amurang. Pengelolaan fasilitas tersebut dilakukan dengan menerapkan standar keselamatan proses dan pengelolaan integritas aset.
Penerapan standar keselamatan tersebut mencakup kajian risiko seperti Hazard Identification (HAZID) dan Hazard and Operability Study (HAZOP) untuk mengidentifikasi potensi bahaya serta meningkatkan keandalan fasilitas operasional.
Penguatan sistem operasional tersebut turut mendukung kesiapan distribusi energi pada periode dengan tingkat permintaan tinggi, seperti Satuan Tugas Ramadan dan Idulfitri (RAFI) maupun Natal dan Tahun Baru (Nataru). Dalam periode tersebut, perusahaan mengerahkan ribuan Awak Mobil Tangki untuk menjaga kelancaran distribusi BBM dan LPG di berbagai wilayah Indonesia.
Selain aspek operasional, perusahaan juga menjalankan sejumlah upaya terkait efisiensi energi, pengurangan emisi, serta pengelolaan lingkungan sebagai bagian dari penerapan prinsip keberlanjutan dalam kegiatan usaha.
(Feby Novalius)