Dia menilai kolaborasi tersebut turut meningkatkan persaingan produk farmasi berkualitas tinggi. Kondisi itu diharapkan menekan harga terapi modern, terutama bagi pasien kanker. Handojo menyebut terdapat hampir 500 ribu kasus kanker setiap tahun. "Pasien mendapat akses produk berkualitas dan terpercaya," ucapnya.
Lebih jauh, Handojo mengatakan, pandemi COVID-19 menjadi pelajaran penting mengenai ketahanan rantai pasok global. Karena itu, penguatan industri farmasi nasional dinilai semakin mendesak. Melalui PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia, perusahaan menargetkan peluncuran bertahap produk specialty dan innovative medicine dalam beberapa tahun mendatang. Produk tersebut mencakup yang telah memperoleh persetujuan maupun masih menjalani proses registrasi di BPOM dan BPJS.
(Taufik Fajar)