PMI Manufaktur RI Terus Tertekan, Pengusaha Buka Suara Soal Kondisi Industri

Rohman Wibowo, Jurnalis
Jum'at 24 Juli 2026 19:16 WIB
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie merespons penurunan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia. (Foto: Okezone.com/IMG)
Share :

JAKARTA - Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie merespons penurunan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia. Menurutnya, kontraksi aktivitas manufaktur tersebut dapat dipulihkan secara bertahap melalui akselerasi program industrialisasi yang berkelanjutan di berbagai sektor.

"Kami melihat justru dengan menggiatkan perdagangan akan ada investasi di bidang industri yang memperkuat manufaktur. Karena kita mesti continue, mesti terus menggiatkan industrialisasi sektor-sektor yang bukan saja dari sisi mineral kritis, seperti nikel, copper, dan bauksit, tetapi juga dari pertanian. Bahkan, dari teknologi data pun bisa diolah menjadi sesuatu yang berharga," kata pria yang akrab disapa Anin itu usai pertemuan dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Rumah Dinas Widya Chandra, Jakarta, Jumat (24/7/2026).

Menurut Anin, diversifikasi sektor berbasis nilai tambah menjadi kunci utama dalam menjaga daya saing industri di dalam negeri. Pengolahan komoditas tidak hanya bertumpu pada mineral tambang, tetapi juga perlu diperluas ke sektor agribisnis hingga pengembangan ekonomi berbasis data digital.

Anin menilai sektor manufaktur nasional masih memiliki daya tahan dan prospek pemulihan yang kuat di tengah ketidakpastian pasar global. Kadin meyakini penguatan industri pengolahan dalam negeri hanya tinggal menunggu waktu seiring tingginya minat investasi dan perdagangan di Indonesia.

"Tapi kembali lagi kepada manufaktur, kami melihat ini hanya masalah waktu. Kalau Indonesia terus menjadi negara yang diminati untuk berdagang dan juga berinvestasi, industrialisasinya selama kita fokuskan pasti bisa berkembang kembali," ujarnya.

Adapun Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia berdasarkan rilis S&P Global pada Juni 2026 turun ke level 46,9 dari 50,0 pada Mei 2026.

Sementara itu, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) pada kuartal II 2026 turun menjadi 51,43% dari 52,03% pada kuartal sebelumnya. Meski menurun, indeks tersebut masih berada pada level ekspansi karena berada di atas angka 50%.

(Feby Novalius)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya