JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan Bali dan Nusa Tenggara menjadi dua wilayah dengan pertumbuhan tertinggi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2026 yang mencapai 5,29 persen.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud mengatakan, secara spasial memang ekonomi tetap tumbuh di seluruh wilayah Indonesia.
"Pertumbuhan ekonomi di Bali dan Nusa Tenggara, Jawa dan Sulawesi di atas pertumbuhan nasional," kata Edy, Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Ekonomi wilayah Jawa dan Sulawesi tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Wilayah Jawa tumbuh sebesar 5,65 persen, kemudian wilayah Sulawesi tumbuh sebesar 5,53 persen.
"Jadi pulau Bali dan Nusa Tenggara tumbuh 6,10 persen yang merupakan pertumbuhan tertinggi," kata Edy.
Jika dilihat sumber pertumbuhan ekonomi menurut wilayah secara lebih detail, sumber pertumbuhan utama wilayah Sumatera adalah pertanian, kemudian industri pengolahan dan perdagangan.
Provinsi yang memberikan sumber pertumbuhan ekonomi tertinggi di wilayah Sumatera adalah wilayah Sumatera Utara dengan andil pertumbuhan sebesar 1,17 persen.
Sumber pertumbuhan utama wilayah Jawa adalah industri pengolahan, perdagangan, dan informasi dan komunikasi. Provinsi yang memberikan sumber pertumbuhan ekonomi tertinggi adalah DKI Jakarta dengan andil pertumbuhan sebesar 1,55 persen.
Sementara untuk sumber pertumbuhan utama wilayah Bali dan Nusa Tenggara adalah pertambangan, perdagangan dan administrasi pemerintahan. Provinsi yang memberikan pertumbuhan tertinggi adalah Bali dengan andil pertumbuhan 2,77 persen.
Selanjutnya, sumber pertumbuhan utama di wilayah Kalimantan adalah industri pengolahan, perdagangan, dan pertambangan.
Wilayah Sulawesi adalah industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi, serta wilayah Maluku dan Papua adalah industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi.
Provinsi yang memberikan sumber pertumbuhan ekonomi tertinggi di wilayah Maluku Utara dengan andil pertumbuhan 2,98 persen.
Perlu diketahui, ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy) masih didorong kuat oleh konsumsi rumah tangga masyarakat.
(Dani Jumadil Akhir)