Sungai Mahakam Mengering, Distribusi BBM dan Bahan Pokok Tersendat

Iqbal Dwi Purnama, Jurnalis
Jum'at 04 September 2026 18:11 WIB
Sungai Mahakam mengalami kekeringan akibat kemarau panjang. (Foto: Okezone.com/PU)
Share :

JAKARTA - Sungai Mahakam mengalami kekeringan akibat kemarau panjang. Kondisi ini mulai berdampak pada tersendatnya distribusi BBM dan bahan pokok ke Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur.

Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) IV Samarinda, Andri Rachmanto Wibowo, mengatakan penurunan muka air Sungai Mahakam berdampak langsung terhadap transportasi air yang selama ini menjadi salah satu jalur utama untuk mengangkut penumpang, bahan pangan, hingga BBM.

"Dengan kondisi muka air sungai saat ini, transportasi air hanya dapat melayani hingga Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat," ujar Andri dalam keterangan resmi, Jumat (4/9/2026).

Kondisi tersebut membuat distribusi bahan pangan dan BBM menuju Kabupaten Mahakam Ulu mengalami kendala. Jalur darat kini menjadi satu-satunya akses distribusi yang dapat digunakan menuju wilayah tersebut.

Namun, penggunaan jalur darat membuat waktu tempuh distribusi menjadi jauh lebih panjang, yakni mencapai sekitar 2 x 24 jam. Terbatasnya akses distribusi tersebut turut berdampak pada ketersediaan BBM dan kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat.

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyatakan terus memantau kondisi Sungai Mahakam untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut akibat penurunan debit air. Pemantauan dilakukan secara intensif oleh BWS IV Samarinda sebagai bagian dari langkah mitigasi menghadapi kondisi kemarau.

"Kami instruksikan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk terus memantau kondisi Sungai Mahakam. Hal ini sebagai langkah mitigasi dampak kemarau," kata Menteri PU Dody Hanggodo.

Secara umum, Kalimantan Timur memiliki curah hujan tahunan yang cukup tinggi, yakni berkisar 3.600-3.700 milimeter. Namun, memasuki puncak musim kemarau pada Juli-Agustus 2026, curah hujan mengalami penurunan signifikan.

Pada Juli 2026, curah hujan tercatat sekitar 289 milimeter. Angka tersebut kemudian turun drastis menjadi hanya 25 milimeter pada Agustus 2026. Minimnya curah hujan menyebabkan debit Sungai Mahakam mengalami penurunan, terutama di wilayah hulu. Sementara itu, di bagian hilir, debit juga menurun, tetapi fluktuasinya relatif lebih stabil.

Kondisi di wilayah hilir tersebut dipengaruhi oleh efek damping atau peredaman, baseflow dari anak-anak Sungai Mahakam yang berasal dari sejumlah kabupaten lain, serta pengaruh pasang surut.


 

(Feby Novalius)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya