Fluktuasi harga komoditas global ini dipengaruhi oleh ekskalasi konflik militer di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran yang terus meluas hingga memicu lonjakan harga BBM/gasolin di AS ke rata-rata USD5,85 per galon. Kondisi ini memperbesar tekanan inflasi.
Selain itu, konflik Rusia-Ukraina yang melibatkan pihak NATO di Eropa Timur juga diprediksi masih berlangsung panjang.
Di sisi lain, dinamika perpolitikan internal AS memanas seiring langkah Presiden Donald Trump yang melakukan intervensi terhadap Bank Sentral AS agar bersedia menurunkan suku bunga. Padahal, data tenaga kerja AS terbaru tercatat melonjak hingga tiga kali lipat.
"Laporan tenaga kerja ya di Amerika itu cukup bagus ya tiga kali lipat kenaikannya dan ini mengindikasikan bahwa Bank Sentral Amerika kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga 25 basis point... hampir 58 persen ya para ekonom di Amerika ada kemungkinan besar di 16 September ya Bank Sentral Amerika itu akan menaikkan suku bunga 25 basis point," jelas Ibrahim.
Ibrahim menambahkan, pertentangan antara dorongan intervensi pemerintah AS dan independensi bank sentral tersebut menjadi sentimen utama yang akan terus memicu fluktuasi harga komoditas dan pasar keuangan global dalam waktu dekat.
(Dani Jumadil Akhir)