JAKARTA - Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pergerakan indeks dolar AS, minyak mentah, emas dunia, hingga logam mulia Antam bakal bergerak fluktuatif pada pekan depan.
Ketegangan geopolitik yang kian memanas di Timur Tengah dan Eropa Timur serta intervensi politik terhadap kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) menjadi pemicu utamanya.
Ibrahim memproyeksikan indeks dolar AS (USD Index) bergerak di rentang USD98,30 hingga USD100,20.
“Jadi ada indikasi bahwa indeks dolar ini akan menuju level USD100,” ungkap Ibrahim dalam analisisnya, Jakarta, Sabtu (5/9/2026).
Sementara itu, harga minyak mentah jenis WTI diperkirakan bergerak pada kisaran rentang batas bawah (support) USD82,50 dan batas atas (resist) USD98,70.
"Harga minyak mentah WTI crude oil ini masih akan terus mendidih ya mendekati level 99," kata Ibrahim.
Untuk emas dunia, Ibrahim mengatakan bahwa level support pertama berada di USD4.393 per troy ons dan support kedua di USD4.276 per troy ons.
Adapun area resist pertama dipatok pada USD4.518 per troy ons dan resist kedua di USD4.668 per troy ons.
Secara keseluruhan, pergerakan emas dunia sepekan ke depan diproyeksikan berada di rentang USD4.276 hingga USD4.668 per troy ons.
Sementara itu, untuk harga Logam Mulia Antam domestik, Ibrahim memproyeksikan pergerakan sepekan berada di kisaran Rp2.500.000 hingga Rp2.754.000 per gram.
“Jadi untuk Logam Mulia dalam sepekan ke depan itu kemungkinan ditransaksikan di Rp2.500.000 per gram sampai di Rp2.754.000 per gram ada selisih Rp254.000 per gram," ungkap Ibrahim.
Fluktuasi harga komoditas global ini dipengaruhi oleh ekskalasi konflik militer di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran yang terus meluas hingga memicu lonjakan harga BBM/gasolin di AS ke rata-rata USD5,85 per galon. Kondisi ini memperbesar tekanan inflasi.
Selain itu, konflik Rusia-Ukraina yang melibatkan pihak NATO di Eropa Timur juga diprediksi masih berlangsung panjang.
Di sisi lain, dinamika perpolitikan internal AS memanas seiring langkah Presiden Donald Trump yang melakukan intervensi terhadap Bank Sentral AS agar bersedia menurunkan suku bunga. Padahal, data tenaga kerja AS terbaru tercatat melonjak hingga tiga kali lipat.
"Laporan tenaga kerja ya di Amerika itu cukup bagus ya tiga kali lipat kenaikannya dan ini mengindikasikan bahwa Bank Sentral Amerika kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga 25 basis point... hampir 58 persen ya para ekonom di Amerika ada kemungkinan besar di 16 September ya Bank Sentral Amerika itu akan menaikkan suku bunga 25 basis point," jelas Ibrahim.
Ibrahim menambahkan, pertentangan antara dorongan intervensi pemerintah AS dan independensi bank sentral tersebut menjadi sentimen utama yang akan terus memicu fluktuasi harga komoditas dan pasar keuangan global dalam waktu dekat.
(Dani Jumadil Akhir)