INACA mencatat sebaran abu vulkanik ke arah timur laut berdampak pada kepadatan koridor penerbangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) dan Bandara Radin Inten II Lampung (TKG). Kondisi tersebut memberikan tekanan ganda terhadap keuangan maskapai karena pendapatan dari penjualan kursi berkurang, sementara biaya operasional meningkat.
“Dampak bisnis ke maskapai bersifat ganda, yakni kehilangan pendapatan sekaligus menanggung lonjakan biaya operasional. Simulasi harian gangguan di CGK dan TKG menunjukkan potensi kerugian Rp10 miliar hingga Rp19 miliar per hari dari 30-50 penerbangan yang batal, ekstra avtur, parkir pesawat, serta kompensasi penumpang. Jika berlanjut sepekan, kerugian bisa menembus Rp70 miliar hingga Rp130 miliar,” ujar Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto kepada iNews Media Group, Senin (7/9/2026).
Berdasarkan peringatan Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin dan NOTAM navigasi penerbangan, pembatalan jadwal dapat diberlakukan apabila konsentrasi abu vulkanik di jalur lepas landas maupun pendaratan melebihi ambang batas 4.000 ppm.
Kondisi tersebut membuat rute menuju Lampung menjadi salah satu yang paling rawan karena lokasinya berjarak kurang dari 150 kilometer dari kawah aktif. Rute padat menuju Batam dan Pontianak, serta penerbangan dari Jakarta ke arah selatan dan barat, juga berpotensi terdampak.
“Penundaan dan holding selama 60 hingga 120 menit menjadi dampak paling dominan di CGK, sementara rute domestik ke Sumatera bagian selatan serta rute internasional ke Australia terpaksa dialihkan melalui utara Jawa dengan tambahan waktu terbang 20-40 menit. Jika status Siaga dan kode Oranye bertahan, sebanyak 15-25 persen penerbangan dari CGK dan 40-60 persen dari TKG berpotensi terganggu,” jelas Bayu.
Menurut Bayu, kerugian terbesar maskapai berasal dari hilangnya potensi pendapatan akibat pengembalian dana tiket. Di sisi lain, biaya sewa armada dan gaji awak pesawat tetap berjalan.
Selain menanggung fasilitas makan dan hotel bagi penumpang yang mengalami keterlambatan lebih dari empat jam, maskapai juga berpotensi menghadapi biaya pemeriksaan dan perawatan mesin apabila pesawat terpapar partikel abu vulkanik.