JAKARTA - Surutnya debit dan permukaan air Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, akibat kondisi kemarau membuat biaya pengiriman batu bara melonjak. Kondisi tersebut terutama dirasakan sejumlah tambang perseroan yang berada di wilayah hulu dan mengandalkan Sungai Mahakam untuk aktivitas pengangkutan batu bara.
Selisih biaya pengiriman batu bara akibat kondisi tersebut diperkirakan mencapai sekitar 30-40% dibandingkan dengan periode normal.
“Saya kira ini adalah fenomena yang banyak dialami oleh tambang-tambang di Kalimantan, terutama yang berada di hulu. Pada prinsipnya bahwa beberapa tambang kita, terutama yang ada di Melak, itu mengalami kendala seperti turunnya debit air dan turunnya permukaan air,” ujar Direktur Utama ITMG Mulianto dalam Public Expose Live 2026, Rabu (9/9/2026).
Menurutnya, rendahnya permukaan air membuat perseroan tidak dapat melakukan kegiatan pemuatan batu bara dengan kapasitas seperti biasanya. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi risiko tongkang kandas ketika melintasi sungai.
Ia menyebut volume pengiriman dari tambang yang terdampak juga dapat turun sekitar 30-40%, bergantung pada kondisi dan level air di Sungai Mahakam.