JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan Indonesia harus terus mengambil peran aktif dalam pembentukan tata kelola global. Hal tersebut disampaikan saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto pada hari pertama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Sabtu (12/9/2026).
Airlangga menekankan krusialnya partisipasi negara-negara berkembang dalam proses negosiasi tata kelola dan sistem perdagangan multilateral agar tidak hanya menjadi penerima aturan yang ditetapkan oleh pihak lain.
“Apabila kita tidak menjadi bagian dari proses negosiasi, maka ketentuan tersebut pada akhirnya akan ditetapkan dan diterapkan kepada kita. Karena itu, Indonesia perlu terus mengambil peran aktif dalam membentuk tata kelola global yang lebih inklusif, representatif, dan berkeadilan,” ujar Menko Airlangga dalam keterangannya, Minggu (13/9/2026).
Airlangga menjelaskan bahwa KTT BRICS 2026 di bawah Keketuaan India mengusung tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability.”
Di bidang ekonomi, pembahasan BRICS mencakup penguatan kerja sama keuangan, pengembangan mekanisme Local Currency Settlement (LCS), pembangunan rantai pasok global yang tangguh, hingga penguatan sistem perdagangan terbuka berbasis aturan.
Dalam sesi khusus tertutup bertajuk “Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism”, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya membangun ketahanan kolektif di tingkat global, yang dimulai dari ketahanan nasional dan diperkuat melalui kerja sama regional.
Presiden Prabowo menggarisbawahi posisi BRICS sebagai kekuatan besar yang mewakili lanskap ekonomi serta demografi dunia saat ini.
“BRICS mewakili setengah umat manusia dan bagian yang besar dari perekonomian dan perdagangan global. BRICS menyatukan pasar-masar terbesar dan para produsen energi utama di dunia. Hal ini menciptakan kekuatan kolektif yang sangat besar,” tegas Presiden Prabowo.
Dalam forum tersebut, Presiden Prabowo membawa pengalaman ASEAN sebagai contoh nyata bagaimana sinergi kawasan mampu menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika geopolitik. Beliau juga mendesak perlunya reformasi mendasar pada berbagai lembaga multilateral, seperti PBB, WTO, dan lembaga keuangan internasional (IFIs), agar lebih responsif serta adil mewakili kepentingan negara-negara berkembang.
Rangkaian KTT BRICS 2026 dijadwalkan berlanjut pada hari kedua dengan agenda pembahasan “Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability: Shaping the Future for Inclusive Global Growth” yang melibatkan negara anggota dan mitra BRICS.
Turut mendampingi Presiden Prabowo dalam KTT ini antara lain Menteri Luar Negeri, Menteri Investasi dan Hilirisasi, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Sekretaris Kabinet, serta Sesmenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso.
(Feby Novalius)