JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap adanya kendaraan yang diduga menggunakan tangki berkapasitas sangat besar untuk membeli BBM subsidi jenis Pertalite di tengah antrean panjang di sejumlah SPBU di Makassar.
Bahlil menyebut, pemerintah menemukan indikasi adanya kendaraan, termasuk mobil dan truk, yang telah dimodifikasi dengan tangki berkapasitas hingga ratusan liter. Bahkan, kapasitas tangki tersebut disebut bisa mencapai 700 liter hingga 1 ton.
"Ada mobil-mobil Pajero, mobil-mobil truk bikin tangki gede besar sampai 700 liter, 1 ton, isi minyak di situ," kata Bahlil dalam acara InTech SEA 2026 di Jakarta, Senin (14/9/2026).
Menurut Bahlil, praktik pembelian BBM subsidi dalam jumlah besar tersebut menjadi salah satu persoalan yang memperparah antrean di SPBU Makassar. Kondisi ini membuat distribusi Pertalite kepada masyarakat menjadi tidak optimal.
Bahlil menilai persoalan antrean BBM di Makassar tidak semata-mata disebabkan oleh keterbatasan pasokan. Pemerintah, kata dia, masih memiliki cadangan BBM nasional yang mencukupi.
"Cadangan nasional kita 20 hari. Harusnya tidak logis masa terjadi antre," ujarnya.
Selain kendaraan dengan tangki berkapasitas besar, Bahlil juga mengungkap adanya indikasi kendaraan yang sengaja kembali mengantre meski tangki kendaraannya belum kosong. Ia menyebut pembelian yang dilakukan dalam sekali pengisian bisa mencapai 10 liter, 15 liter hingga 20 liter.
Bahlil pun meminta adanya kerja sama dengan kepolisian untuk mengawasi praktik pembelian BBM subsidi tersebut. Pengawasan diperlukan untuk memastikan Pertalite yang diperuntukkan bagi masyarakat tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu.
"Kalau begini mau tunggu Menteri ESDM dari langit pun akan seperti ini," tegas Bahlil.
Pemerintah, lanjut dia, akan melakukan langkah cepat untuk mengatasi persoalan antrean sekaligus memastikan distribusi BBM subsidi berjalan sesuai peruntukannya.
Pengungkapan mengenai tangki berkapasitas hingga 1 ton ini menjadi perhatian di tengah antrean Pertalite di Makassar, terutama karena kapasitas tersebut jauh lebih besar dibanding kebutuhan pengisian kendaraan pada umumnya.
(Taufik Fajar)