El Nino Diprediksi Bertahan hingga 2027, Industri Hadapi Tantangan Pengelolaan Air

Feby Novalius, Jurnalis
Jum'at 18 September 2026 09:40 WIB
Perubahan pola iklim mendorong industri untuk semakin adaptif dalam mengelola sumber daya air. (Foto: Okezone.com/SMBC)
Share :

JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kondisi atmosfer kering masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia seiring musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dan lebih panjang dari normal. Fenomena El Niño juga diprakirakan masih bertahan hingga awal 2027.

Kondisi tersebut mendorong pelaku industri memperkuat efisiensi penggunaan air. PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) mencatat pengambilan air baku turun menjadi 2.132 megaliter pada 2025, dari 2.252 megaliter pada 2024.

Direktur Operasi Solusi Bangun Indonesia Edi Sarwono mengatakan perubahan pola iklim mendorong industri untuk semakin adaptif dalam mengelola sumber daya air.

“Air merupakan sumber daya vital bagi kehidupan termasuk kegiatan ekonomi dan industri. Karena itu, kami terus berupaya menurunkan penggunaan air permukaan dengan memanfaatkan sumber air alternatif seperti pemanenan air hujan, penggunaan recycled water, serta penggunaan teknologi yang membantu mengoptimalkan distribusi air ke fasilitas produksi agar lebih efisien,” ujar Edi Sarwono.

Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, pengambilan air permukaan perusahaan turun sekitar 18%, dari 841 megaliter pada 2024 menjadi 688 megaliter pada 2025. Penggunaan air tanah juga turun sekitar 11%, dari 487 megaliter menjadi 432 megaliter.

Di sisi lain, volume air hujan yang ditampung meningkat sekitar 9%, dari 676 megaliter pada 2024 menjadi 734 megaliter pada 2025.

Perusahaan juga meningkatkan pemanfaatan air daur ulang atau recycled water. Pada 2025, empat pabrik semen Solusi Bangun Indonesia memanfaatkan 563 megaliter air daur ulang dari proses produksi atau sekitar 31,7% dari total pengambilan air.

Di Pabrik Cilacap, Jawa Tengah, air hujan yang tertampung di settling pond digunakan kembali untuk kebutuhan produksi. Upaya tersebut membuat penggunaan air baku di pabrik itu turun 37% pada 2025 dibandingkan dengan baseline 2019.

Sementara itu, Pabrik Narogong, Jawa Barat, menggunakan teknologi Programmable Logic Controller (PLC) dan Internet of Things (IoT) untuk mengatur distribusi air. Teknologi tersebut membantu mengurangi konsumsi air tawar dari sungai sebesar 82 megaliter sepanjang 2025.

Pabrik Lhoknga, Aceh, juga memanfaatkan air hujan melalui fasilitas penampungan untuk mengurangi penggunaan air sungai. Pada 2025, pabrik tersebut mencatat penurunan penggunaan air baku dari sungai sebesar 100%.

Edi mengatakan pengelolaan air perlu dilakukan melalui efisiensi, penggunaan kembali, dan pemanfaatan sumber air alternatif untuk menghadapi perubahan iklim.

“Ketahanan menghadapi perubahan iklim dibangun dari keputusan yang kita ambil hari ini. Setiap upaya untuk menggunakan kembali air, memanfaatkan sumber alternatif, dan mengurangi kehilangan air membantu menjaga ketersediaannya bagi operasi, lingkungan, maupun masyarakat,” kata Edi.

(Feby Novalius)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya