Heru memaparkan, penetrasi pasar telah dibagi ke berbagai klaster, mulai dari ASN dan PPPK di kementerian/lembaga, buruh di kawasan industri melalui kerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan, hingga pengemudi ojek daring dan ormas keagamaan seperti Nahdlatul Ulama serta Muhammadiyah.
Pihaknya juga intensif berkeliling ke berbagai daerah untuk mengonsolidasikan pengembang agar pasokan unit rumah siap menyerap tingginya animo masyarakat.
Kendati demikian, Heru meluruskan bahwa lambatnya realisasi bukan semata-mata bersumber dari kendala kapasitas pegawai di lembaganya, melainkan persoalan pasokan hunian di lapangan.
"Kepeminatan masyarakat sebenarnya sangat tinggi di hampir semua daerah, tetapi ketersediaan dari sisi supply yang terhambat perizinan dan status LSD itulah yang menjadi bottleneck utama saat ini," urai Heru.
(Feby Novalius)