Kapasitas Pelabuhan Naik, Ekosistem Logistik Darat Diperkuat

Agustina Wulandari , Jurnalis
Kamis 24 September 2026 15:54 WIB
Kapasitas pelabuhan naik. (Foto: dok Pelindo)
Share :

SURABAYA - Peningkatan kapasitas pelabuhan peti kemas perlu diikuti penguatan simpul logistik di sisi darat. Hal ini perlu dilakukan agar percepatan bongkar muat tidak justru memindahkan titik hambatan ke rantai distribusi berikutnya. 

Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM, Prof. Kuncoro Harto Widodo,  mengatakan pertumbuhan arus peti kemas perlu diimbangi dengan penguatan seluruh simpul dalam ekosistem logistik. Menurutnya, peningkatan layanan logistik tidak hanya bergantung  pada infrastruktur fisik, tetapi juga integrasi data, kapasitas sumber daya manusia, dan  dukungan regulasi. 

Pakar manajemen logistik dan rantai pasok itu mengatakan volume arus peti kemas nasional  mengalami pertumbuhan positif dalam lima tahun terakhir. Kondisi tersebut membuat  penguatan kapasitas dan keterhubungan antarsimpul menjadi semakin penting.

“Hambatan  pada satu simpul akan berdampak pada simpul lainnya,” ujar Kuncoro.

Karena itu, Kuncoro mendorong integrasi data antara terminal, perusahaan pelayaran, depo,  trucking, kawasan industri, dan pemerintah. Pemanfaatan National Logistics Ecosystem  (NLE) juga perlu terus dioptimalkan agar pergerakan informasi dapat mengikuti bahkan  mendahului pergerakan barang. 

“Yang diidealkan itu aliran informasi mestinya setiap saat bahkan kalau bisa mendahului aliran  barang,” katanya. 

Selain integrasi sistem informasi, Kuncoro menilai pengembangan angkutan barang berbasis  kereta api perlu diperkuat sebagai alternatif distribusi menuju pelabuhan. Pengembangan  moda tersebut juga dapat mendukung upaya penanganan kendaraan over dimension overload (ODOL) di jalur darat. 

Pandangan mengenai pentingnya keterhubungan antarsimpul juga disampaikan praktisi  kepelabuhanan serta logistik dari Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti, Wahyono  Bimarso. 

Menurutnya, kemampuan terminal peti kemas di Indonesia pada dasarnya sudah  semakin baik dan memenuhi standar internasional. Namun, peningkatan produktivitas di  dalam terminal tidak akan memberikan dampak maksimal apabila tidak diikuti kesiapan  fasilitas setelah kontainer keluar dari pelabuhan. 

"Terminal peti kemas kita sebenarnya sudah berstandar internasional. Persoalan utama justru  muncul setelah kontainer keluar dari pelabuhan. Kecepatan bongkar muat tidak akan  berdampak maksimal apabila depo, gudang, jalan, dan sistem distribusi di sisi darat tidak  berkembang dengan kecepatan yang sama,” kata Wahyono.

Pria yang juga Kaprodi Teknik Kelautan ITL Trisakti ini mencontohkan kondisi di Merauke.  Meskipun fasilitas pelabuhan dinilai sudah memadai, keterbatasan lapangan penumpukan  dan gudang di belakang pelabuhan masih menjadi persoalan. 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya