Bandara Soetta Catat Sejarah Baru, Pertama Kali Tutup Total Imbas Erupsi Anak Krakatau

Iqbal Dwi Purnama, Jurnalis
Minggu 04 Oktober 2026 19:05 WIB
Penutupan total Bandara Soekarno-Hatta akibat sebaran abu vulkanik dari aktivitas Anak Krakatau beberapa waktu lalu menjadi peristiwa yang belum pernah terjadi. (Foto: Okezone.com/IMG)
Share :

JAKARTA - Penutupan total Bandara Soekarno-Hatta akibat sebaran abu vulkanik dari aktivitas Anak Krakatau beberapa waktu lalu menjadi peristiwa yang belum pernah terjadi dalam operasional bandara terbesar di Indonesia tersebut.

Direktur Operasi PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) Agus Haryadi mengatakan sepanjang pengalamannya bekerja di Bandara Soekarno-Hatta sejak 1992, belum pernah terjadi penutupan bandara secara keseluruhan.

“Sepanjang yang saya tahu, saya bekerja di Soekarno-Hatta dari tahun 92, artinya sudah 35 tahun, belum pernah mengalami penutupan bandara secara total,” ujarnya dalam acara bersama Kementerian Perhubungan di Bandung, dikutip Jumat (2/10/2026).

Agus mengatakan saat pandemi Covid-19 melanda selama kurang lebih tiga tahun, Bandara Soekarno-Hatta juga tidak mengalami penutupan total. Saat itu, hanya dilakukan pembatasan mobilitas untuk meminimalkan penyebaran virus sehingga bandara tetap beroperasi melayani masyarakat.

“Covid pun tidak tutup. Status bandara itu open. Kalau ini benar-benar close,” katanya.

Agus menjelaskan penutupan sebagian Bandara Soekarno-Hatta sebelumnya memang beberapa kali terjadi, misalnya ketika salah satu landasan pacu mengalami perbaikan atau gangguan. Namun, penutupan seluruh operasional bandara baru dilakukan akibat sebaran abu vulkanik tersebut.

Keputusan penutupan dilakukan setelah hasil pengujian menunjukkan adanya abu vulkanik yang berpotensi membahayakan penerbangan. Agus mengatakan pihaknya tidak ingin mengambil risiko terhadap keselamatan penumpang dan awak pesawat.

“Setelah BMKG memastikan bahwa dari hasil paper test, hasil black glass ternyata positif, kita tidak mau mengambil risiko dan langsung kita lakukan penutupan,” jelasnya.

Menurut Agus, penutupan bandara merupakan keputusan yang harus diambil meskipun konsekuensinya sangat besar terhadap operasional penerbangan dan penumpang.

“Tentu penutupan ini bukan opsi. Memang harus dilakukan. Tentu alasan pertamanya adalah alasan keselamatan, karena ini nyawa orang yang kita handle,” ujarnya.

Dampak penutupan tersebut pun sangat besar. Dalam kondisi normal, Bandara Soekarno-Hatta melayani sekitar 1.000 pergerakan pesawat dan sekitar 130 ribu penumpang per hari. Dengan sejumlah bandara lain ikut terdampak, termasuk Halim Perdanakusuma, Tanjung Karang, dan Bandung, Agus memperkirakan jumlah penumpang yang terdampak mencapai lebih dari 200 ribu orang.

Angkasa Pura kemudian mengaktifkan posko dan melakukan sejumlah langkah untuk menangani penumpang yang terdampak. Salah satunya dengan menyediakan bus untuk memobilisasi penumpang menuju bandara lain di Pulau Jawa, seperti Solo, Yogyakarta, dan Surabaya.

“Kalau ngomong rugi, rugi Pak, banyak ruginya. Rp40 miliar ada kali Pak dalam dua hari itu. Tapi tentu kami tidak memikirkan itu,” pungkas Agus.

(Feby Novalius)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya