Langkah tersebut juga menyusul arahan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang mengevaluasi alokasi ekspor gas untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mendukung hilirisasi industri dalam negeri.
Menanggapi pengurangan pasokan tersebut, EMA menyatakan memahami bahwa importir gas di Singapura akan menempuh langkah penyelesaian sesuai dengan klausul kontrak kerja sama yang mengatur gangguan pasokan.
EMA juga menegaskan telah menyiapkan rencana kontingensi untuk menghadapi kemungkinan pengurangan pasokan serupa. Berdasarkan catatan otoritas tersebut, dalam beberapa bulan terakhir, pasokan gas juga sempat berkurang sebesar 20–100 bbtud akibat pemeliharaan jaringan, baik yang terencana maupun mendesak.
"Pengurangan-pengurangan tersebut telah digantikan dengan sumber-sumber gas lainnya tanpa kendala. Singapore GasCo secara operasional siap mengimpor lebih banyak LNG kapan saja," sebut EMA.
Kesiapan tersebut didukung oleh diversifikasi sumber energi Singapura. Negara itu tidak hanya mengandalkan pasokan gas dari Indonesia, tetapi juga memperoleh gas alam dari pemasok lain di pasar global.