JAKARTA – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai konser musik internasional Ye (Kanye West) di Jakarta menjadi bukti bahwa Indonesia tidak hanya memiliki pasar domestik yang besar, tetapi juga berpotensi menjadi destinasi utama bagi wisatawan mancanegara.
Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, dampak ekonomi dari penyelenggaraan konser internasional tidak terbatas pada penjualan tiket. Gelaran tersebut juga berpotensi menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi berbagai sektor usaha.
"Apindo melihat penyelenggaraan konser internasional berskala besar seperti Kanye West di Jakarta sebagai fenomena positif yang menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya memiliki pasar domestik yang besar, tetapi juga potensi menjadi destinasi yang mampu menarik kunjungan wisatawan mancanegara," ujar Shinta kepada iNews Media Group, Senin (26/10/2026).
Shinta menambahkan, pergerakan penonton dari luar negeri maupun luar daerah mendorong perputaran ekonomi di berbagai sektor, mulai dari perhotelan, transportasi, restoran, dan pusat perbelanjaan hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta industri kreatif lokal.
"Dampak ekonominya tentu tidak berhenti pada penjualan tiket konser. Kehadiran penonton dari luar negeri maupun luar daerah menciptakan multiplier effect bagi berbagai sektor usaha, mulai dari perhotelan, transportasi, restoran, pusat perbelanjaan, hingga UMKM dan pelaku ekonomi kreatif. Aktivitas wisatawan yang turut berbelanja dan mengonsumsi produk maupun jasa lokal merupakan bentuk perputaran ekonomi yang manfaatnya dapat dirasakan oleh pelaku usaha secara lebih luas," jelasnya.
Dari sisi reputasi, keberhasilan Indonesia menjadi tuan rumah acara berskala global dinilai dapat memperkuat posisinya sebagai destinasi utama untuk kegiatan MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions) serta menunjukkan kesiapan infrastruktur nasional.
"Yang juga tidak kalah penting adalah dampaknya terhadap citra dan kepercayaan internasional terhadap Indonesia. Kehadiran penonton mancanegara menunjukkan bahwa Indonesia memiliki daya tarik sebagai destinasi MICE dan hiburan internasional. Sementara itu, kemampuan menyelenggarakan pertunjukan berskala global dapat menjadi bukti kesiapan infrastruktur, kapasitas industri kreatif, serta kemampuan ekosistem usaha nasional dalam mendukung kegiatan internasional," kata Shinta.
Rekam jejak penyelenggaraan acara internasional yang baik dinilai dapat meningkatkan kepercayaan promotor dan mitra bisnis global. Kondisi ini berpotensi mendorong perluasan investasi sekaligus membuka lapangan kerja baru di Indonesia.
"Bagi dunia usaha, rekam jejak penyelenggaraan acara internasional yang baik merupakan modal penting untuk membangun kepercayaan promotor, penyelenggara acara, maupun mitra bisnis global. Hal ini berpotensi membuka peluang lebih besar bagi Indonesia untuk menjadi tuan rumah berbagai konser, festival, dan kegiatan internasional lainnya, sekaligus mendorong investasi, pengembangan industri kreatif, dan penciptaan lapangan kerja," jelasnya.
Untuk menjaga keberlanjutan momentum tersebut, Shinta mendorong penguatan sinergi antara regulator dan pelaku usaha melalui penyederhanaan perizinan serta integrasi ekosistem pariwisata.
"Ke depan, momentum seperti ini perlu terus diperkuat melalui penguatan konektivitas, kesiapan infrastruktur, kemudahan perizinan, serta integrasi antara industri hiburan, pariwisata, dan UMKM. Harapannya, Indonesia tidak hanya dikenal sebagai pasar yang besar, tetapi juga sebagai destinasi global yang kompetitif dan dipercaya untuk menyelenggarakan berbagai event internasional," pungkas Shinta.
(Feby Novalius)