Terang di Rumah Sendiri, Menyalakan Kedaulatan Energi

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis
Selasa 03 November 2026 11:26 WIB
Terang di Rumah Sendiri, Menyalakan Kedaulatan Energi (Foto: PLN)
Share :

Dari Ketahanan Pasokan Menuju Energi Bersih

Ketersediaan gas domestik menjadi salah satu fondasi ketahanan energi. Namun, tantangan energi Indonesia tidak berhenti pada kepastian pasokan. Sistem kelistrikan juga dituntut semakin efisien, andal, dan mampu mengakomodasi sumber energi yang lebih bersih.

Direktur Utama PLN Suroso Isnandar menekankan pentingnya keterhubungan antara ketahanan energi primer dan keandalan listrik. Penguatan ekosistem dari hulu hingga hilir, menurutnya, membutuhkan sinergi antara sumber daya domestik, infrastruktur, dan pengelolaan sistem kelistrikan.

“Ketahanan energi dan keandalan listrik merupakan dua hal yang saling berkaitan. Karena itu, PLN terus memperkuat ekosistem energi dari hulu hingga hilir," kata Suroso.

Dalam konteks itu, gas Natuna dapat menjadi bagian dari diversifikasi pasokan energi untuk pembangkit. Namun, gas tetap merupakan energi fosil. Karena itu, penguatan pasokan gas perlu berjalan beriringan dengan percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan.

"Keberhasilan pengaliran gas Natuna ke Batam ini menunjukkan pentingnya sinergi antara pengembangan sumber daya energi dalam negeri dan pembangunan infrastruktur untuk menghadirkan pasokan listrik yang andal, mendukung pertumbuhan ekonomi, serta memperkuat kedaulatan energi Indonesia,” ujar Suroso.

Arah tersebut sejalan dengan agenda pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 gigawatt peak (GWp) yang menjadi target pemerintah. Target tersebut membutuhkan perencanaan matang, investasi, kesiapan jaringan, dan kolaborasi lintas sektor agar dapat diwujudkan secara bertahap tanpa mengabaikan keandalan listrik.

Di sisi lain, Suroso menambahkan, PLN siap menerjemahkan arahan Pemerintah melalui Danantara Indonesia serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menuju kedaulatan dan swasembada energi hijau secara terencana, terukur dan berjalan selaras dengan kebutuhan bangsa.

"Bersama dengan Kementerian ESDM dan Danantara Indonesia, PLN harus menerjemahkan arah tersebut ke dalam perencanaan, investasi, dan pelaksanaan yang dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.

Di tengah perjalanan panjang PLN melayani kebutuhan listrik masyarakat, satu hal yang tidak pernah berubah yaitu setiap gangguan yang terjadi harus segera ditangani. Berbagai tantangan di lapangan harus dihadapi untuk mempercepat pemulihan, dengan tetap mengutamakan ketelitian dan keselamatan dalam setiap pekerjaan.

Keandalan listrik berpengaruh langsung pada setiap sendi kehidupan masyarakat. Bagi pedagang, listrik menopang usaha dan menjaga barang dagangan. Bagi rumah sakit, listrik mendukung pelayanan dan perawatan pasien. Bagi anak-anak, listrik menunjang kegiatan belajar, sementara bagi industri, listrik menjaga produksi tetap berjalan. 

Karena itu, setiap gangguan dapat berarti aktivitas yang tertunda, penghasilan yang terganggu, hingga kekhawatiran bagi masyarakat yang harus segera ditangani.

Untuk merespons kebutuhan tersebut, PLN memetakan titik gangguan berulang berdasarkan tingkat risiko, memperkuat kesiapan personel, peralatan, dan material untuk mempercepat pemulihan, serta memastikan setiap keluhan pelanggan ditindaklanjuti secara jelas dan terukur.

“Ketika keluhan atau gangguan datang, harus segera ditangani, meskipun kita sangat paham tantangan di lapangan sungguh berat. Ada petugas yang harus menyebrang untuk mencapai lokasi tugas, menghadapi medan sulit, cuaca buruk, keterbatasan peralatan atau perjalanan panjang ketika gangguan listrik terjadi. Namun PLN harus langsung menjawab kegelisahan masyarakat yang bertanya kapan listrik menyala," ujar Suroso.

Sementara, pengamat ekonomi dan komoditas Ibrahim Assuabi menilai kepemimpinan PLN harus memahami karakteristik berbagai jenis pembangkit, baik yang konvensional maupun energi terbarukan. 

Menurut dia, sistem kelistrikan nasional membutuhkan bauran sumber energi yang beragam agar mampu menghadapi tantangan pasokan dan perubahan kondisi alam.

“Karena PLN ini kan bukan saja bergerak di bidang energi tenaga uap, ya kemudian tenaga diesel, kemudian tenaga air, nah juga dengan energi terbarukan,” ujar Ibrahim.

Dia menilai percepatan energi surya perlu menjadi bagian dari langkah konkret penguatan sistem energi nasional. Di sisi lain, pengembangan energi nuklir pada masa mendatang juga membutuhkan kepemimpinan, perencanaan, serta kesiapan teknis yang memadai.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa transisi energi bukan sekadar mengganti satu jenis pembangkit dengan jenis lainnya. Perubahan harus disiapkan melalui penguatan infrastruktur, kemampuan teknologi, investasi, dan pengelolaan sistem yang mampu menjaga keseimbangan antara pasokan, keterjangkauan, serta keberlanjutan.

Dengan kata lain, kemandirian energi tidak berarti meninggalkan seluruh sumber energi konvensional dalam waktu singkat. Yang dibutuhkan adalah pengelolaan sumber daya secara terukur sembari mempercepat pemanfaatan energi yang lebih bersih.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya