Terang di Rumah Sendiri, Menyalakan Kedaulatan Energi

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis
Selasa 03 November 2026 11:26 WIB
Terang di Rumah Sendiri, Menyalakan Kedaulatan Energi (Foto: PLN)
Share :

Kedaulatan Energi Dimulai dari Rumah

Transformasi energi juga berlangsung di tingkat rumah tangga. Ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG masih menjadi tantangan dalam mewujudkan kemandirian energi.

Data Kementerian ESDM menunjukkan, porsi impor LPG mencapai 80,58 persen dari total kebutuhan nasional pada 2025 dan meningkat menjadi 83,97 persen hingga Februari 2026. Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya diversifikasi energi, termasuk mendorong pemanfaatan listrik untuk kebutuhan rumah tangga.

Salah satu langkah yang didorong adalah pemanfaatan kompor listrik, terutama bagi rumah tangga nonpenerima LPG bersubsidi. Elektrifikasi peralatan rumah tangga diharapkan dapat memperluas pemanfaatan listrik sekaligus mendukung perubahan pola konsumsi energi.

Upaya itu membutuhkan dukungan ekosistem yang memudahkan masyarakat beralih. Dalam Green Energy Partnership Summit 2026 di Jakarta pada 22 Oktober, PLN menandatangani nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama dengan lebih dari 40 entitas lintas sektor. Kerja sama tersebut mencakup pengembangan hunian berbasis listrik, kendaraan listrik, fasilitas pengisian daya, hingga pemanfaatan PLTS atap.

Wakil Direktur Utama PLN Yusuf Didi Setiarto menjelaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi bagian dari upaya mempercepat elektrifikasi dan mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.

Di tingkat pelanggan, PLN mengembangkan sejumlah pilihan layanan untuk mendukung perubahan tersebut. Melalui paket Eco Grid Living, misalnya, pelanggan dapat memilih layanan Eco Cooking untuk penggunaan kompor listrik, Eco Charging untuk kesiapan pengisian kendaraan listrik di rumah, atau Eco Living yang menggabungkan keduanya.

PLN juga memperkenalkan layanan My eStove, berupa paket penyambungan baru atau penambahan daya yang dilengkapi kompor listrik dan dapat diakses melalui aplikasi PLN Mobile mulai 27 Oktober 2026.

Sementara itu, perkembangan kendaraan listrik membutuhkan dukungan infrastruktur pengisian daya. Hingga September 2026, tercatat terdapat 5.120 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan 103.116 fasilitas pengisian daya di rumah atau home charger.

Pengembangan energi surya turut menjadi bagian dari pilihan pelanggan. Melalui layanan Solar as a Service untuk pelanggan bisnis, PLN menawarkan skema pemanfaatan PLTS tanpa investasi awal, selain pilihan pembelian langsung.

Direktur Retail dan Niaga PLN M Fahrur Rozy menyampaikan bahwa PLN terus mengembangkan peran dari penyedia listrik menjadi mitra solusi energi bagi pelanggan.

Rangkaian inisiatif tersebut menunjukkan bahwa transisi energi membutuhkan perubahan dari sisi pasokan sekaligus permintaan. Infrastruktur harus tersedia, teknologi perlu semakin mudah diakses, dan masyarakat maupun dunia usaha perlu memiliki pilihan yang sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan ekonominya.

Terang yang Mengubah Kehidupan

Pada akhirnya, ukuran kemandirian energi tidak hanya terlihat dari jaringan pipa, kapasitas pembangkit, atau jumlah stasiun pengisian kendaraan listrik. Ukuran lainnya adalah sejauh mana listrik dapat menjangkau rumah-rumah yang selama ini belum menikmati akses energi secara layak.

Di sinilah program Listrik Desa (Lisdes) dan Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) memiliki peran penting. Keduanya menjadi bagian dari upaya pemerintah bersama PLN untuk memperluas akses listrik, khususnya bagi masyarakat di wilayah yang belum terjangkau jaringan dan rumah tangga yang membutuhkan sambungan listrik.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa akses listrik merupakan bagian dari pemenuhan hak masyarakat dan wujud keadilan sosial. Melalui BPBL, rumah tangga penerima memperoleh bantuan berupa instalasi listrik rumah, Sertifikat Laik Operasi (SLO), biaya penyambungan daya 900 VA, serta token listrik awal senilai Rp100.000.

Bagi Ono Taryono, bantuan tersebut mengubah kehidupan keluarganya. Warga Dusun Prau Bosok, Desa Muara Baru, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, itu sebelumnya harus meminjam sambungan listrik dari tetangganya. Aliran listrik yang digunakan hanya tersedia mulai sekitar pukul 18.00 hingga pagi hari.

"Dulu saya menumpang listrik ke tetangga. Listriknya hanya bisa digunakan mulai pukul 18.00 hingga pagi hari,” ujar Ono.

Keterbatasan tersebut membuat aktivitas keluarga tidak leluasa. Anak-anaknya juga kesulitan belajar pada malam hari. Dalam kondisi gelap, rasa khawatir kerap muncul ketika listrik tidak dapat digunakan sesuai kebutuhan.

"Sebelum ada listrik sendiri, anak-anak kesulitan belajar karena kondisi gelap dan mereka juga takut," katanya.

Kini, setelah memiliki sambungan listrik sendiri, keluarganya dapat menjalankan aktivitas rumah tangga dengan lebih nyaman. Anak-anaknya pun memiliki kesempatan belajar dengan penerangan yang memadai.

"Sekarang, dengan adanya listrik di rumah, mereka bisa belajar dengan lebih nyaman,” pungkasnya.

Bagi sebagian orang, sambungan listrik mungkin terlihat sebagai fasilitas biasa. Namun, bagi keluarga yang selama ini harus bergantung pada tetangga, listrik mandiri berarti kebebasan mengatur waktu, rasa aman, dan kesempatan yang lebih baik bagi anak-anak.

Perubahan kecil di sebuah rumah itu merupakan bagian dari pekerjaan besar memperluas pemerataan energi.

Sepanjang 2025, program Lisdes di 210 lokasi di Jawa Barat mencakup pembangunan jaringan tegangan menengah (JTM) sepanjang 46,82 kilometer sirkuit, jaringan tegangan rendah (JTR) sepanjang 182,78 kilometer, serta pemasangan transformator distribusi dengan kapasitas total 3.700 kVA.

Di Dusun Prau Bosok sendiri, pembangunan jaringan meliputi 0,549 kilometer JTM, 0,91 kilometer JTR, dan satu unit transformator berkapasitas 50 kVA. Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari upaya membuka akses listrik bagi masyarakat setempat.

Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan PLN Edwin Nugraha Putra menegaskan kesiapan PLN untuk menghadirkan listrik hingga ke dusun-dusun terpencil.

"Kami terus membangun jaringan dan gardu distribusi agar masyarakat dapat menikmati layanan listrik yang layak,” ujar Edwin.

Perluasan jaringan tersebut ditopang sistem kelistrikan Jawa Barat yang terintegrasi dengan sistem Jawa, Madura, dan Bali (Jamali). Kondisi sistem yang aman dan normal serta ketersediaan cadangan daya menjadi bagian penting untuk menjaga keandalan pasokan ketika akses listrik semakin luas.

Kisah Ono memperlihatkan bahwa pembangunan energi tidak selalu harus diukur dari proyek berskala besar. Di balik infrastruktur dan angka-angka kapasitas, ada kehidupan keluarga yang berubah ketika listrik akhirnya hadir di rumah mereka.

 

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya