JAKARTA - Masa jabatannya sebagai dirut PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) habis tepat pada Kamis (6/3/2008) ini. Dirut Eddie Widiono buka-bukaan mengenai apa yang akan dilakukan selepas tak menjabat lagi.
Eddie mengaku, dirinya akan menggeluti hobi barunya yang membuat sang istri tercinta khawatir. Apakah itu?
Berikut petikan wawancara khusus okezone dengan Eddie Widiono, di ruang kerjanya, di Gedung PLN Pusat Lantai 9, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, pada Senin 3 Maret 2008 lalu.
Selepas dari sini mau apa?
Saya buka kartu sedikit ya. Saya berterimakasih sama staf humas PLN, Pak Denny, yang sudah seperti sahabat. Dia mengajak kita pada kegiatan outdoor. Kita belajar ngetril. Padahal, saya terakhir naik motor 30 tahun yang lalu, sewaktu masih mahasiswa. Sampai-sampai istri saya juga bilang, emangnya nggak cukup tantangan di kantor sampai harus ngetril segala?
Lompat pakai motor. Ini bukan sok-sokan, karena kita membutuhkan untuk masuk ke daerah yang paling dalam. Melihat mereka yang belum terjangkau listrik.
Waktu saya naik ke Gunung Derajat, Kabupaten Garut, Jawa Barat, saya tersentuh sekali. Soalnya kondisi kehutuanan setempat hanya tersisa 30 persen saja. Sudah tidak ada lagi hutan dan yang ada hanya kebun.
Tetapi saya lihat masyarakat yang berkebun itu bukan masyarakat yang makmur. Saya perpikir, kalau hutan sudah habis tapi kok kemiskinan masih ada.
Ketika sampai di sana, saya benar-benar merenung. Saya lihat masyarakat masih sangat sederhana, sudah ada listrik tapi baru diresmikan ketika saya akan ke sana.
Saya berpikir apakah listrik membuat masyarakat tambah makmur atau malah memperparah kemiskinan. Sepulang dari sana saya terus berpikir, tidak cukup bicara rasio elektrifikasi. Hal itu diperlukan, karena ini maslaah keadilan. Jangan sampai masyarakat yang di desa tidak dapat listrik.
Kalau dicari akar permasalahnnya ya jelas. Yang mikirin hutan ya hanya mikir hutan saja, yang mikir perkebunan ya mikir kebun saja. Kita nggak mikir secara logistik. Otak kanan saya jadi berkembang. Saya sangat ingin mengembangkan PLN untuk berpikir secara penuh bahwa kita menyediakan listrik untuk kemakmuran bukan mendorong masyarakat ke dalam jurang kosumerisme.
Saya pernah ditegur LSM karena program listrik masuk desa itu merugikan. Mereka menilai, untuk membayar listrik, mereka harus menjual hasil panen untuk medapat uang tunai. Karena rekening listrik harus dibayar kalau tidak akan mati. Akibatnya posisi tawar mereka rendah ya mereka jual murah. Uangnya lari ke kantor PLN dan diteruskan ke kota. Jadinya PLN pusat nyedot kekayaan di desa.
Logika itu saya bantah mati-matian. Tapi sekarang saya pikir ada benarnya juga. Karena kita nggak mikir secara rasional.
Kembali ke pembicaraan awal. Jadinya selepas dari PLN apa yang akan Anda lakukan?
Saya mau mendalami lagi masalah-masalah yang telah saya paparkan tadi. Karena saya dilahirkan dan dibesarkan di keluarga militer. Saya dicekoki terus untuk berbuat sesuatu bagi bangsa. Saya pikir bangsa kita membutuhkan pemikiran untuk bebas dari kehancuran. Harus ada sesuatu upaya untuk menyinergikan berbagai kekuatan. Jangan masing-masing merasa benarnya sendiri.
Setelah berkecimpung selama 31 tahun, saya kira saya bisa mengkontribusikan sesuatu dalam hal memperbaiki pemahaman, kesenjangan komunikasi dari program yang menyebabkan masyarakat kita dari keterbelakangan.
Tentunya kalau sudah bicara dalam tingkat masyarakat, saya nggak bisa melihat lagi PLN sebagai sumbunya. Dan saya merasa, setelah lepas dari PLN, pemikiran seperti itu sebagai tantangan tersendiri.
Bekerja selama 31 tahun di PLN, merupakan anugerah yang harus saya bayar kembali. Sebab, bangsa ini yang sudah mengizinkan saya untuk menikmati kenikmatan ini. Jujur saja, saya bisa punya rumah dan menyekolahkan anak, dan bisa dapat coverage dan banyak orang kenal Eddie Widiono. Semua itu karena saya bekerja di PLN. Tugasnya berbagi kebahagian.
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.