Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Laba Bank Lippo Tergerus

Tomi Sujatmiko , Jurnalis-Kamis, 01 Mei 2008 |10:35 WIB
Laba Bank Lippo Tergerus
A
A
A

JAKARTA - PT Bank Lippo Tbk mencatat kinerja yang kurang memuaskan akibat krisis subprime mortgage di Amerika Serikat.
Laba setelah pajak perseroan mengalami penurunan sekitar 30 persen dari Rp165 miliar pada triwulan I-2007 menjadi Rp116 miliar pada triwulan I-2008 ini.

Direktur Treasury Bank Lippo Gottfried Tampubolon dalam keterangan tertulisnya mengatakan, penurunan kinerja ini disebabkan oleh volatilitas dalam portofolio pendapatan tetap perseroan. Hal ini disebabkan portofolio pendapatan tetap perseroan berupa obligasi pemerintah Republik Indonesia.

"Krisis subprime mortgage di Amerika Serikat telah berdampak negatif kepada pasar dalam periode triwulan I-2008. Walaupun demikian, kami mengharapkan pemulihan dalam semester kedua tahun 2008," ujarnya.

Dia menuturkan margin bunga bersih (Net Interest Margin /NIM) juga mengalami tekanan dalam periode triwulan I-2008 karena tingginya kompetisi dalam penyaluran kredit. Selain itum itambah dengan penurunan BI rate dalam tahun 2008 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2007.

Sedangkan pertumbuhan kredit Lippo Bank tercatat sebesar 62 persen year-on-year menjadi Rp 21,187 miliar secara konsolidasi untuk periode tahun buku yang berakhir 31 Maret 2008.

"Portofolio kredit perseroan terdiri dari 40 persen kredit komersial, sekitar 31 persen kredit korporasi dan 29 persen kredit consumer (termasuk piutang pembiayaan yang disalurkan melalui anak usahanya, PT Kencana Internusa Artha Finance," tandasnya.

Presiden Direktur dan CEO Bank Lippo  Henk Mulder mengatakan sekitar 69 persen dari pertumbuhan kredit telah disalurkan kepada segmen UKM dan konsumer, yang mana mereka terus menjadi fokus dan bagian penting dari pertumbuhan kredit perseroan. Aset (konsolidasi) pada akhir periode kuartal I/2008 mencapai Rp 40,231 triliun atau meningkat 21 persen year-on-year (YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di sisi kewajiban, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga meningkat pesat pada semua produk pendanaan, mencapai Rp 32,146 triliun pada akhir periode kuartal I/2008 atau naik 22 persen YoY.

"Kami bersyukur dengan peningkatan yang sehat pada DPK akibat tingginya tingkat persaingan untuk pendanaan dengan beban bunga rendah di industri. Dengan hasil ini perseroan mempertahankan posisi sebagai salah satu dari dua bank dengan beban bunga terendah dalam pasar, dimana tabungan dan giro menyumbang 67 persen dari total DPK," paparnya.

Chief Financial Officer Thila Nadason mengatakan bisnis inti perseroan masih sangat kuat yang tercermin pada portofolio kredit dan dana pihak ketiga.

Rasio kinerja dan pertumbuhan kredit memungkinkan perseron untuk memenuhi kriteria bank jangkar dalam kerangka Arsitektur Perbankan Indonesia.

Pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga mengakibatkan loan to deposit Ratio (LDR) meningkat 50 persen pada kuartal I 2007 menjadi 66 persen di 2008 dan memberikan ruang gerak untuk pertumbuhan di masa depan.

Non performing loan (NPL) kotor dari 1,9 persen di kuartal I/2007 menjadi 1,2 persen pada kuartal I/2008. Sedangkan beban operasional dikelola secara hati-hati dan meningkat sebesar lima persen dari Rp359 miliar pada kuartal I/2007 menjadi Rp377 miliar pada kuartal I/2008.

(Rani Hardjanti)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement