JAKARTA - Walau pada akhir pekan pasar modal rawan aksi ambil untung (profit taking), tapi nilai tukar rupiah diproyeksikan akan mengalami penguatan pada perdagangan hari ini, Jumat (29/1/2010).
"Meski akhir pekan biasanya rawan profit taking, tapi saya kira sentimen positif lebih kuat.," kata Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono kepada okezone di Jakarta, Jumat (29/1/2010).
Salah satu dari sentimen positif itu adalah optimisme yang kembali muncul di pasar saham akibat sentimen regional yang mulai membaik. Yakni akibat The Fed yang tidak merubah tingkat suku bunga acuannya (Fed Rate).
Selain itu, aksi demo 28 Januari kemarin nampaknya berjalan lancar. "Demo berjalan sangat baik, tidak anarkis. Ini mengesankan pasar, sehingga rupiah tetap berpeluang menguat besok," tukasnya. Menurut Tony, rupiah akan mengalami penguatan tipis ke level Rp9.350-9.360 per USD.
Sebelumnya, berdasarkan data yahoofinance.com, pada perdagangan kemarin, Kamis (28/1/2010) ditutup di level Rp9.372,5 per USD, menguat cukup tajam jika dibandingkan dengan perdagangan pagi hari yang sempat berada di Rp9.385 per USD. Sementara itu, bedasarkan data Bank Indonesia (BI) kurs jual rupiah hari ini berada di level Rp9.455 dan kurs beli di Rp9.361 per USD.
Dilansir dari Valbury Securities, pada perdagangan kemarin USD menguat ke level tertinggi enam bulan atas euro setelah the Fed menyuarakan sikap positif terhadap kondisi ekonomi AS.
Euro turun ke level USD1,4004, level terendah sejak medio Juli dari level session high USD1,4096. Kekhawatiran atas kondisi utang Yunani masih memberikan tekanan kepada euro. USD juga menguat ke level 89.90 yen per USD, menyapu kerugian di awal sesi yang menekan USD ke level 89,15. USD juga menguat atas Swiss franc dan poundsterling masing-masing di level USD1,0519 dan USD1,6150.
(Candra Setya Santoso)