JAKARTA - Setelah industri keramik terancam tutup akibat rencana PT Perusahan Gas Negara (PGN) yang akan memangkas pasokan gas untuk industri nasional sebesar 20 persen, ancaman serupa juga menghantui industri sarung tangan plastik.
Ketua Umum Asosiasi Industri Sarung Tangan Karet Indonesia (ASTA) Ahmad Safiun mengatakan, semua pabrik sarung tangan plastik di Indonesia terancam akan tutup apabila realisasi pemangkasan 20 persen gas oleh PGN benar terjadi.
"Hal ini terjadi karena, utilisasi produksi akan mengalami penurunan akibat kurangnya pasokan gas. Utilisasi pabrik sarung tangan saat ini hanya di bawah 50 persen, jika gas sebagai energi turun maka produksi akan turun atau berhenti,” kata Ahmad, di Jakarta, Selasa (2/3/2010).
Ahmad mengakui, pihaknya sangat heran dengan kebijakan pemerintah tersebut, karena, lanjut dia, kebutuhan gas untuk pabrik sarung tangan plastik sangat kecil yaitu 5 mmscfd untuk seluruh pabrik, namun PGN hingga kini belum bisa memberikan kepastian. “Kebutuhan kita tidak banyak, tapi sulit dipenuhi,” tegas dia.
Selain itu, pabrik sarung tangan plastik menurutnya juga mengalami kesulitan lain yakni masalah pasokan listrik, pasalnya saat ini, kata dia, di Medan sering terjadi pemadaman listrik. Ditambah lagi, di Medan, lanjutnya, sering mengalami pemadaman listrik.
"Saat ini, pabrik sarung tangan yang masih beroperasi sebanyak delapan pabrik, di mana tujuh di antaranya berada di Medan dan satu pabrik di Cibinong, Bogor. Jumlahnya turun dari 2008 yakni sebanyak 12 pabrik. Empat pabrik di 2008 berhenti berproduksi, karena tidak mendapat pasokan gas,” jelasnya.
Ahmad menjelaskan, pada saat ini, kapasitas produksi delapan pabrik sarung tangan plastik tersebut yakni sebanyak lima miliar potong, dan mengalami penurunan dari 2008 yang sebanyak 12 miliar potong.
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.