Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BPS Curhat Sering Ditolak Saat Survei

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Rabu, 25 September 2013 |11:32 WIB
BPS <i>Curhat</i> Sering Ditolak Saat Survei
Logo BPS. (Foto: Situs BPS)
A
A
A

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, saat ini tantangan yang paling berat adalah mengumpulkan data mengenai survei atau sensus. Hal ini disebabkan banyaknya responden yang menolak untuk di survei.

"Tantangan BPS untuk kumpulin data semakin berat. Era yang sekarang otonomi dan demokrasi. Responden ada yang menolak untuk survei BPS padahal Badan kami ada Undang Undang no.16 tahun 1997," jelas Kepala BPS Suryamin dalam dialog interaktif BPS di Mangga Besar, Jakarta, Rabu (25/9/2013).

Suryamin menjelaskan, pada saat petugas BPS datang untuk mendata di suatu daerah, kebanyakan responden berdalih tidak mau disurvei dengan berbagai alasan. Padahal, merupakan kewajiban dari masyarakat untuk membantu BPS mendapatkan data.

"Petugas kami datang untuk survei atau sensus, sudah diterima baik dengan responden, ketika ingin diminta wawancaranya responden selalu bilang jangan dulu disurvei. Padahal dalam UU, responden enggak boleh nolak karena kami Badan yang ada UU, boleh nolak badan survei yang lain," tambahnya.

Menurutnya, hal-hal inilah yang sangat menghambat BPS untuk mendapatkan, serta menyampaikan data statistik ke masyarakat. Pasalnya, tidak jarang masyarakat yang juga butuh data statistik.

"Kalau begini susah juga berikan data yang akurat. Data statistik kan juga sebagai alat kebijakan pemerintah, untuk evaluasi. Memperbaiki kebijakan yang sudah dilakukan, data statistik sangat membantu untuk pemerintah dan swasta untuk tingkatkan kinerjanya," tandasnya.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement