Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Harga Timah Dan Tembaga Naik, Perajin Gamelan Menjerit

Bramantyo , Jurnalis-Minggu, 23 Februari 2014 |07:04 WIB
Harga Timah Dan Tembaga Naik, Perajin Gamelan Menjerit
Ilustrasi: (Foto: Okezone)
A
A
A

SUKOHARJO - Para pengrajin gamelan di Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo,resah menyusul melonjaknya harga timah dan tembaga. Kenaikan harga timah dan tembaga dua kali lipat yang mulai dirasakan para pengrajin gamelan awal bulan Pebruari 2014 berpotensi mengancam pendapatan para pengrajin.

Salah satu pengrajin di UD Wirun Jaya Suryono mengatakan, sebelum kenaikan, harga beli  timah sebesar Rp185 ribu. Namun memasuki awal bulan Pebruari, harga beli timah mencapai Rp295 ribu per kilogramnya. Khusus harga timah asli Bangka Belitung yang memiliki kualitas cukup bagus, harganya melonjak cukup tinggi. Sebelumnya, harga beli timah ini hanya Rp 340 ribu. Tetapi harga timah khusus ini harganya naik menjadi Rp80 ribu-Rp 95 ribu per kilogramnya.

Otomatis nantinya keuntungan dari penjualan gamelan ikut terpengaruh dengan kenaikan tersebut. saat kenaikan bahan baku timah dan tembaga mulai terjadi, Suryono mengaku langsung mengalkulasi berapa nantinya keuntungan yang bisa diperolehnya. Dari perhitungan awal tersebut dilakukan, bila sebelumnya, para pengrajin gamelan termasuk dirinya mendapatkan keuntungan sebesar Rp30 juta dari penjualan satu set gamelan senilai Rp380 juta. Namun dengan kenaikan tersebut, setelah dihitung, jelas kenaikannya menurun

”Jujur kami sudah menghitungnya begitu kenaikan terjadi. Kalau harga tetap melonjak seperti ini, mencari keuntungan Rp15 juta dari perset gamelan yang kami jual, susahnya minta ampun. Kalau terus-terusan begini, bahan baku naik lagi tak terkendali, bisa gulung tikar,”jelas Suryono saat berbincang dengan Okezone, di Wirun, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Menyusul kenaikan harga beli bahan baku timah dan tembaga, praktis memaksa dirinya terpaksa menaikan harga gamelan sesuai jenis.

“Misalnya untuk Gong berdiameter 80 sentimeter yang harga sebelum kenaikan bahan baku Rp6 juta, kita naikan menjadi Rp6,75 juta. Alasannya, pembuatan gong seukuran itu perlu 25 kg tembaga dan 7,5 kg timah dengan biaya sekitar Rp5 juta,” ujarnya.

Tak hanya itu saja, penghematan lainnya terpaksa dilakukannya. Salah satunya pengiriman seperangkat gamelan. Kalau dalam kondisi normal, ungkap Suryono, gamelan bisa dikirimkan per itemnya, tetapi dengan kenaikan harga bahan baku, pengiriman menunggu seluruh proses pembuatan gamelan selesai diproduksi.

"Kalau mengirimnya per item seperti biasa, tidak usah menunggu waktu. Proses pembuatan selesai, kita pun ikut selesai. Jadi menunggu seluruh satu set gamelan selesai, baru dikirim. Kebanyakan kita mengirimnya ke Pulau Bali,"ungkapnya sambil tertawa.

Ungkapan senada pun di rasakan Duwek, pemilik sanggar perajinan gamelan Wahyu Indra Giri. Menurut Duwek adanya kenaikan harga timah dan tembaga ini, mau tidak mau juga akan mempengaruhi pengiriman gamelan ke luar negeri.

Dalam kondisi normal sebelum kenaikan terjadi, dalam setahun pengiriman seperangkat gemelan keluar negeri bisa dilakukan sebanyak 2 kali. Namun,dengan kenaikan ini, Duwek memprediksi pengiriman tersebut pasti hanya mampu dilakukan satu kali saja dalam setahun.

”Sekarang kami tidak berani menyetok gamelan, tunggu pesanan saja,” kata Duwek.

Duwek menduga, kenaikan harga baku timah dan tembaga ini disebabkan karena pemerintah tak mampu mengendalikannya. Sehingga harganya melonjak.

(Fakhri Rezy)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement