Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Beras Plastik Bisa Picu Pasar Tradisional Kian Ditinggalkan

Feby Novalius , Jurnalis-Sabtu, 23 Mei 2015 |13:17 WIB
   Beras Plastik Bisa Picu Pasar Tradisional Kian Ditinggalkan
Ilustrasi beras. (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Beredarnya beras plastik membuat tingkat pembelian beras eceran di pasar menurun hingga 30 persen. Konsumen pun kini lebih banyak bertanya, guna memastikan beras ini bukan beras plastik.

"Dulu 1 ton habis, tapi sekarang hanya 700 kg, itu pun dengan pembeli harus nanya-nanya dulu sebelum belinya. Ya buat minta keyakinan kalau beras itu tidak ada beras plastiknya," ucap Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia APPSI Ngadiran, dalam talkshow Polemik Sindotrijaya FM, di Double Tree, Jakarta ,Sabtu (23/5/2015).

"Penjualan eceran beras masih tetap ada, tapi tidak seperti biasanya. Misal beli beras biasanya 10 liter, sekarang hanya 3 liter," tambahnya.

Menurutnya, saat ini bukan hanya konsumen yang dirugikan, tapi penjual juga dirugikan. "Wong cilik sudah susah ditambah susah lagi. Jadi benar atau tidaknya kasus beras plastik ini semua orang sudah dirugikan. Tapi dari kasus ini kita dibuat sadar, jika perlu ketelitian dan kecerdasan bagi kita dalam membeli dan mengonsumsi suatu makan," jelas dia

Meski demikian, dia mempertanyakan kenapa fokus pemerintah saat ini hanya sidak di pasar-pasar tradisional saja. "Apa pernah pasar swalayan di sidak dan diekspos sampai sebesar ini?" tanya dia.

Menurutnya, jika hal ini terus terjadi, bukan tidak mungkin masyarakat beralih ke pasar swalayan dan meninggalkan pasar tradisional karena persoalan yang belum pasti tersebut.

"Saya berharap pemerintah lebih ekstra melakukan pengawasan. Jika terbukti benar beras ini impor dari China, berarti pemerintah kecolongan untuk hal ini. Peraturan soal pengawasan sudah bagus, tapi pelaksananya belum ada," tuturnya.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement