Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Revolusi Industri 4.0 dan Transisi Ekonomi

Koran SINDO , Jurnalis-Senin, 28 Maret 2016 |11:41 WIB
Revolusi Industri 4.0 dan Transisi Ekonomi
Ilustrasi : Okezone
A
A
A

Setelahnya, ketika kemajuan di bidang microchip dan internet telah menghadirkan smartphone yang terjangkau dipadu dengan biaya bandwith yang semakin murah, hadir revolusi industri baru, yaitu revolusi 4.0 yang sedang kita alami saat ini. Sebenarnya, sejumlah bisnis telah terkena dampak dari hadirnya revolusi industri 4.0. Misalnya saja, PT Pos yang dulunya sangat mengandalkan usaha jasa pengiriman surat terpaksa mentransformasi diri akibat revolusi industri 4.0.

Mengirim kabar, mengucapkan ulang tahun, selamat hari raya, dan berkomunikasi yang dulunya dilakukan melalui jasa PT Pos terganti dengan pengiriman pesan melalui perangkat telekomunikasi handphone. Hal ini membuat PT Pos kehilangan pendapatan yang cukup besar akibat volume jasa pengiriman surat turun tajam. Fenomena ini juga terjadi di seluruh dunia dan memaksa perusahaan serupa meredefinisi ulang bisnis mereka menjadi perusahaan penyedia jasa keuangan, jasa logistik, dan jasa pemanfaatan aset yang dimiliki di berbagai daerah.

Di bidang media, revolusi industri 4.0 mengubah secara radikal cara konsumen mendapatkan informasi. Mulai dari berbasis koran printing menjadi koran digital. Di dunia terdapat penurunan industri printing akibat menurunnya oplah koran dan majalah. Bahkan sejumlah koran legendaris seperti The Independent menghentikan penerbitan koran cetak. Beberapa terbitan majalah seperti Newsweek juga beralih ke versi digital.

Dunia perbankan dan jasa keuangan juga mulai mengalami transformasi secara radikal. Hadirnya internet-banking dan branchless-banking telah mengubah bagaimana manajemen perbankan-ritel dikelola. Tuntutan kehadiran kantor cabang tergantikan dengan hadirnya ATM dan keandalan sistem internet-banking. Banyak transaksi yang dilakukan oleh konsumen perbankan tanpa melalui kantor cabang. Bahkan saat ini istilah “brick” diganti dengan “click”.

Brick (batu bata) mencerminkan kantor cabang dan click merefleksikan akses cepat berbasis internet. Industri ritel juga mengalami transformasi mendasar menuju ke konsep online shopping. Tidak hanya di Indonesia, di banyak negara online shopping telah banyak menggerogoti pasar industri ritel konvensional. Selain itu, industri musik telah berubah radikal. Dari distribusi musik berbasis CD berubah menjadi digital. Era ini membuat banyak distributor yang gulung tikar karena beralihnya perilaku konsumen dari membeli CD ke membeli melalui download di sejumlah portal berbayar penyedia musik. Industri jasa perjalanan juga terkena dampak dari revolusi 4.0.

Semakin lama konsumen semakin mengandalkan pembelian tiket pesawat, kereta api, kapal laut, dan pemesanan kamar hotel berbasis digital. Sepertinya transisi radikal dan besar-besaran sedang terjadi dan membutuhkan antisipasi tidak hanya bagi pelaku usaha, tetapi juga pemerintah. Sulit membayangkan bagaimana transisi ini terjadi 5-10 tahun ke depan.

Memang revolusi industri 4.0 akan melahirkan peluang usaha baru. Namun korban dari revolusi industri 4.0 juga perlu diantisipasi. Terutama para pekerja yang selama ini menggantungkan diri pada usaha konvensional yang berisiko akan meredup dan hilang dengan hadirnya revolusi industri 4.0. Misalnya saja, sebuah pertanyaan besar apakah usaha seperti pusat ritel di Pasar Tanah Abang Jakarta, Pasar Turi Surabaya, Pasar Klewer Solo, dan di daerah lain masih bisa bertahan 5-10 tahun ke depan?

Jangan-jangan konsep pasar grosir yang selama ini kita kenal terganti dengan pasar digital yang mulai marak terjadi saat ini. Akan ke manakah para pedagang yang selama ini menggantungkan hidup dari jualan di pasar-pasar tradisional? Pertanyaan inilah yang perlu menjadi dasar bagi pemerintah untuk secepatnya merumuskan kebijakan antisipasi agar tidak muncul masalah sosial akibat hilangnya mata pencaharian.

Transisi ekonomi tidak hanya mendukung hadirnya start-up atau technopreneur, melainkan juga memikirkan bagaimana tenaga kerja yang tergusurtergusur akibat kalah bersaing dalam revolusi industri 4.0. Terlebih salah satu ciri khas revolusi industri 4.0 relatif pada modal (capital intensive), padat teknologi (technology intensive) serta tidak padat karya (labor intensive).

Sementara situasi Indonesia saat ini masih membutuhkan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar untuk mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan yang semakin sulit untuk diturunkan jumlahnya. Hal inilah yang menjadi tantangan di transisi ekonomi, terutama di sektor ketenagakerjaan di Indonesia.

Masingmasing pihak perlu secara dingin dan tenang merumuskan hal ini agar transisi ekonomi di era revolusi 4.0 terjadi secara baik dan tidak berujung pada konflik horizontal antara tenaga kerja di industri-konvensional dan tenaga kerja di industri-berbasis-digital. (dan)

Prof Firmanzah PhD

Rektor Universitas Paramadina Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

(Rani Hardjanti)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement