YOGYAKARTA – Setelah dipasarkan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), akhirnya varian bahan bakar nonsubsidi terbaru, dexlite akhirnya mulai dipasarkan di Yogyakarta.
Dua stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Yogyakarta yang lokasinya berdekatan dengan Terminal Bus Giwangan menjadi titik uji coba pengganti solar bersubsidi tersebut. Branch Manajer Pertamina MOR IV area Yogyakarta dan Surakarta, Doddy Prasetya mengungkapkan, jelang Ramadan ini, Pertamina mencoba dexlite di daerah.
Untuk tahap awal, pihaknya memasarkan di area Yogyakarta. Setelah itu akan mulai memasarkannya ke Solo dan Kedu. Harapannya, penjualan meningkat seiring datangnya arus mudik pada Lebaran nanti. “Kami mematok target khusus untuk varian ini,” tuturnya saat peluncuran dexlite di SPBU Singosaren, Kecamatan Banguntapan Bantul, kemarin.
Dua SPBU uji coba memang berada di jalur utama mudik yaitu Singosaren, Bantul dan SPBU Giwangan, Kota Yogyakarta. Selain itu, keduanya juga berada di jalur Ring Road Selatan yang biasanya dilintasi pemudik menuju Solo dan Jawa Timur.
Atau sebaliknya ketika arus balik Lebaran. Saat ini, lanjut dia, untuk kebutuhan dua SPBU tersebut pihaknya menyediakan stok sekitar 8.000 liter untuk masing-masing. Doddy menambahkan, penyediaan dexlite terinspirasi adanya varian lebih tinggi dari premium yakni pertalite. Sekarang serapan pertalite sudah mencapai 20 persen dari konsumsi premium.
Dia juga berharap serapan dexlite akan mengikuti kisah sukses pendahulunya. Meskipun kendalanya sama dengan pertalite, yakni penyediaan tangki timbun di masing-masing SPBU. Sebab bukan persoalan mudah bagi SPBU untuk menyediakan tangki timbun lagi.
“Akan tetapi kami yakin dexlite juga akan diterima dengan baik (oleh konsumen),” katanya optimistis. Ditanya nilai lebihnya dibanding solar, Doddy menjelaskan, dexlite menawarkan kualitas pembakaran yang lebih baik, mengurangi penyumbatan di injektor sekaligus mengurangi polusi.
Harga perdana dexlite lebih terjangkau yakni Rp6.650/liter dibandingkan Pertamina dex Rp8.200 dan solar Rp5.150. Pertamina yakin konsumen baik mobil pribadi maupun kendaraan niaga antusias menyambut peluncuran dexlite. Optimisme tersebut tidak lepas dari kualitas bahan bakar terbaru ini.
Dody menjelaskan dexlite mempunyai klasifikasi antara solar dan Pertamina dex dengan Cetane Number (CN) 51 dan kandungan sulfur maksimal 1.200 part per milion (ppm). Klasifikasi dexlite ini lebih tinggi dari solar dengan CN 48 dan kandungan sulfur maksimal 3.500 ppm.
Bahkan lebih rendah dibandingkan Pertamina dex yang merupakan produk bahan bakar diesel terbaik dengan CN 53 dan kandungan sulfur 300 ppm. Wakil Ketua DPC Hiswana Migas DIY Dwi Cahyono juga optimistis perlahan-lahan penjualan dexlite akan naik dan mengimbangi penjualan pertalite. Karena pemilik mobil baru akan lebih memilih dexlite ketimbang solar.
“Prosesnya memang akan seperti pertalite. Akan tetapi harapan saya, semua SPBU bisa menyediakannya,” tandasnya.
(Raisa Adila)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.