SINGAPURA - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) milik Singapura, Temasek Holdings, mencatat penurunan nilai portofolio sekira 24 miliar dolar Singapura atau sebesar USD14 miliar. Portofolio mereka mengalami penurunan sekira 9 persen pada periode 31 Maret lalu.
Nilai portofolio Temasek jatuh ke 242 miliar dolar Singapura atau sekira USD180 miliar pada tahun fiskal lalu, dari sekira USD266 miliar atau USD194 miliar pada periode tahun sebelumnya. Ini adalah pertama kalinya nilai portofolio mereka turun sejak krisis keuangan global 2009.
Total shareholder return (TSR) tahunan selama 20 tahun turun menjadi 6 persen, dari 7 persen pada 2015. Imbal obligasi 10-tahun TSR dalam dolar turun menjadi 8 persen, dan untuk 6 persen dalam dolar Singapura.
Temasek's head of strategy, Michael Buchanan, mengatakan kondisi pasar global yang menantang dan belum stabil karena tekanan politik dari Brexit dan euro-skeptisisme dapat meningkatkan sisi negatif.
"Setiap kali Anda memiliki ketidakpastian politik, itu akan membebani keyakinan bisnis, belanja modal dan kepercayaan konsumen," katanya seperti dilansir dari CNBC.
"Kita sudah melihat bahwa referendum membuat penurunan PMI (Purchasing Manufactur Index) dan langkah-langkah lain yang berhubungan dengan kepercayaan diri sehingga kemungkinan akan berlanjut dan membebani pertumbuhan," tambah dia.
Selain downside langsung, dia masih melihat ada kemungkinan peluang investasi juga. Dia memperkirakan Federal Reserve akan terus melihat risiko untuk kenaikan suku bunga lebih lambat. Selain itu, dia melihat bahwa China akan mengatasi tantangan sebagai ekonomi, meski demikian kekhawatiran atas tingkat utang tetap ada.
Temasek juga mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan divestasi senilai USD28 miliar dolar Singapura dan melakukan investasi sebesar 30 miliar dolar Singapura. Dana tersebut, digunakan untuk mendorong likuiditas awal tahun untuk meningkatkan divestasi.
Selain itu, Temasek juga mencatat bahwa sekira 60 persen dari investasi mereka, masuk ke dalam emiten dan bukan surat utang. Sayangnya, investasi tersebut salah tempat, lantaran indeks saham di Singapura dan Hong Kong jatuh hampir 15-16 persen.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.