Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kemenperin Dorong Industri Jepang Perkuat Rantai Pasok

Antara , Jurnalis-Senin, 16 Januari 2017 |20:39 WIB
Kemenperin Dorong Industri Jepang Perkuat Rantai Pasok
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (Foto: Antara)
A
A
A

JAKARTA - Kementerian Perindustrian mendorong industri asal Jepang yang ada di Indonesia agar memperkuat rantai pasoknya sehingga akan membantu mengatasi permasalahan kebutuhan bahan baku di dalam negeri.

"Kami berharap industri-industri dari Jepang, seperti bidang pengolahan mineral logam, pembangkit listrik, gasifikasi batu bara, petrokimia dan kaca dapat berinvestasi pada lokasi-lokasi kawasan industri yang telah disiapkan," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto lewat keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Airlangga menyampaikan hal tersebut pada acara Business Meeting between Japan and Indonesia di Jakarta.

Untuk itu, diharapkan investasi dari perusahaan-perusahaan Negeri Sakura tersebut kian meningkat.

Kawasan industri itu, antara lain Kawasan Industri Dumai di Riau yang telah dilengkapi pembangkit listrik dengan kapasitas 50 MW, terminal CPO dan pengolahan limbah. Kawasan ini dapat digunakan untuk pengembangan industri gasifikasi batu bara dan oleo chemical.

"Kami juga menawarkan kawasan Industri JIIPE di Gresik dengan total area seluas 2.933 Ha serta didukung power plants sebesar 23 MW dan 500 MW. Kawasan yang dilengkapi dengan residensial area dan pelabuhan ini didorong sebagai kawasan untuk heavy industry dan permesinan," tutur Airlangga.

Selanjutnya, Kawasan Industri Kendal di Jawa Tengah dengan luas sebesar 2.700 ha yang lokasinya berdekatan dengan pelabuhan Semarang.

Di kawasan ini, rencananya akan dibangun industri furniture, industri makanan dan industri garmen.

"Dengan upah buruh yang kompetitif, maka kawasan industri ini akan memiliki keunggulan dibanding kawasan lain," ujar Airlangga.

Menperin juga menawarkan lokasi Kawasan Industri Bontang di Kalimantan Timur.

"Kawasan ini akan dikembangkan untuk industri gasifikasi batu bara. Dengan didukung area seluas 265,6 Ha, saat ini sedang dibangun industri jasa minyak dan gas di kawasan tersebut," terangnya.

Bahkan, Kemenperin mendorong pula pelaku industri kecil dan menengah (IKM) di Jepang agar ikut berinvestasi di Indonesia.

"Kami ingin membantu agar makin banyak investasi IKM dari Jepang di Indonesia. Ke depannya, IKM Jepang ini akan dimitrakan dengan IKM-IKM yang ada di Indonesia untuk penguatan dan upgrading produktivitas," papar Airlangga.

Untuk mendukung hal tersebut, lanjut Airlangga, pihaknya telah melakukan penguatan data dari pelaku IKM di dalam negeri agar nantinya dapat diidentifikasi sektor mana saja yang dapat menjadi mitra strategis.

"Diharapkan, IKM Indonesia juga menjadi salah satu bagian dari supply chain," tegasnya.

Pada pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di Istana Bogor, yang juga dihadiri Menperin Airlangga, Jokowi menyebutkan investasi Jepang mencapai 4,498 miliar dolar AS atau Rp59,8 triliun (pada kurs Rp13.300) hingga September 2016.

Angka tersebut meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2015.

Berdasarkan data BKPM, Jepang memberikan kontribusi investasi paling tinggi di Indonesia melalui industri otomotif dengan nilai USD1,18 miliar pada 2015, disusul kawasan industri dan properti USD520 juta, kemudian industri logam, elektronik, dan mesin senilai USD426 juta, serta listrik, gas, dan air sebesar USD134 juta.

Kerja sama vokasi Indonesia dan Jepang juga berupaya meningkatkan kerja sama di bidang pendidikan vokasi atau kejuruan, sesuai arahan Presiden Joko Widodo yang menekankan bahwa untuk membangun industri nasional dibutuhkan tenaga kerja industri yang kompeten.

"Kami sendiri telah melakukan kerja sama dengan Jepang melalui MoU antara SMTI Yogyakarta dengan National Institute of Technology, Akashi College, Akashi City, Hyogo, Jepang," kata Airlangga.

Dalam hal ini, Kemenperin bersama empat kementerian lainnya menandatangani MoU untuk melakukan penguatan vokasi industri di Indonesia.

Kesepakatan yang akan dilakukan, yakni melalui program sinergi pada jalur pendidikan, pelatihan, pemagangan dan sertifikasi untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja Indonesia.

MoU ini ditandatangani pada Juli 2016, yang menekankan adanya pertukaran pengajar, siswa, serta kursus pendek.

"Selain itu, telah dilakukan pengiriman ke Mitsui Engineering dan Shipbuilding sebanyak 80 orang dalam kurun waktu tiga tahun untuk mendapat pelatihan welding," tambahnya.

Program ini bekerja sama dengan lembaga pelatihan di beberapa kampus di Indonesia.

Pada kunjungan kerjanya ke Jepang Oktober 2016, Airlangga telah meminta kepada perusahaan-perusahaan Jepang yang ditemui saat itu bersama Wakil Menteri METI agar mereka dapat meningkatkan kerja sama di bidang vokasi industri.

Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah memberikan sertifikasi kepada setiap karyawan dan siswa Indonesia yang mendapat pelatihan di Jepang.

"Untuk itu, Bapak Presiden memberikan arahan agar SMK dan politeknik di Indonesia diperkuat link and match-nya dengan industri," ungkap Airlangga.

Selain itu, tambahnya, Presiden juga menargetkan sampai dengan tahun 2019 ada satu juta tenaga kerja dari vokasi yang terhubung dengan industri.

(Raisa Adila)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement